ASEAN Sesalkan Negara yang Larang Warganya ke Asia Tenggara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Pnom Penh:Pimpinan negara-negara anggota ASEAN, termasuk Presiden Megawati Soekarnoputri, menyesalkan kebijakan negara-negara barat yang melarang warganya berkunjung ke beberapa kota di Asia Tenggara. Larangan itu didasari alasan bahwa Asia Tenggara memiliki potensi menjadi target serangan terorisme menyusul ledakan dasyat di Bali, 12 Oktober lalu. Kami meminta dunia internasional untuk tidak membedakan kami dengan melarang warganya untuk berkunjung ke negara kami atau sebaliknya. Belum ada bukti yang kuat untuk membuktikan rumor atau kemungkinan serangan teroris di wilayah kami, kata pimpinan negara dalam dekalarasinya seperti disebutkan siaran pers Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, Senin (4/11). Selain itu, dalam dekalarasinya, pimpinan negara-negara Asia Tenggara juga berikrar untuk bersatu memerangi kelompok terorisme. Kami berketetapan hati dengan seluruh kekuatan yang kami miliki secara intensif, baik secara berkelompok maupun individu, mencegah dan memberantas seluruh aktivitas kelompok terorisme di wilayah kami, kata mereka. Para pimpinan juga sepakat penegak hukum mereka bekerja sama dengan negara-negara lainnya di luar ASEAN memerangi terorisme. (Kami akan ambil bagian) praktis bekerjasama di antara kami dan dengan komunitas internasional, ujar mereka. Mereka juga meminta dunia internasional mendukung langkah memerangi terorisme dan membantu pemulihan kepercayaan investor. Deklarasi sendiri ditandatangani oleh 10 pimpinan negara anggota ASEAN, pada saat jamuan makan malam, Minggu (3/11) kemarin. Pimpinan negara anggota ASEAN selam 3 hari, 3-5 November, melakukan pertemuan di Ibukota Kamboja. Atau, hanya tiga minggu setelah bom berkekuatan tinggi menguncang Bali, 12 Oktober lalu, dan menewaskan 181 orang itu. (afp/Kurniawan-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.