Patroli AS Bentrok dengan Gerilyawan Irak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Samarra:Untuk pertama kalinya pasukan Amerika Serikat dihadang serangan gerilyawan Irak di Samarra, sekitar 100 kilometer di utara Bagdad, kemarin. Serangan tiba-tiba yang dilancarkan gerilyawan membuat pasukan AS melancarkan balasan dengan menggunakan semua kekuatan senjatanya, termasuk meriam. Balasan Amerika tidak hanya menewaskan 46 gerilyawan, tapi juga delapan warga sipil. Pertempuran di Samarra itu meletus setelah sekelompok gerilyawan berseragam hitam-hitam ala Fedayin (pasukan berani mati Saddam Hussein yang dipimpin putra Saddam, Uday) melancarkan serangan terkoordinasi dari balik gedung-gedung secara mendadak terhadap iring-iringan logistik Amerika yang dikawal tank Bradley saat melewati kota Samarra.Sepanjang jalan kota, serangan terus dilancarkan terhadap dua iring-iringan. Di salah satu tempat, mereka membuat barikade yang membuat salah satu iring-iringan Divisi Infanteri 4 sempat terhenti. Saat itulah, gerilyawan menghujani tentara Amerika dengan bom, tembakan senapan ringan, mortir, dan granat berpeluncur roket. Mereka membidik dari bangunan-bangunan di sekitar jalan.Pasukan Amerika melakukan serangan balasan dengan memuntahkan meriam kaliber 120 mm dan 25 mm dari tank Bradley. Namun, sekitar satu jam kemudian, iring-iringan itu mendapat serangan kembali dengan senapan ringan AK-47 kali ini dari sebuah sedan BMW. Hanya saja, pasukan Amerika kemudian berhasil menangkap keempat gerilyawan yang berada dalam kendaraan itu."Pasukan dapat menghalau berbagai serangan yang terpisah, membunuh 46 orang penyerang, melukai setidaknya 18 orang, dan menangkap delapan orang," kata Letkol Bill MacDonald, Juru Bicara Militer Divisi Infanteri 4. Menurut MacDonald, semua korban adalah penyerang, tidak ada warga sipil Irak. Belakangan tentara Amerika meralat jumlah korban menjadi 54. Tak dijelaskan jumlah korban sipil.Keterangan MacDonald ini bertentangan dengan laporan di lapangan. Delapan orang sipil tewas, termasuk seorang perempuan dan seorang bocah, kata Bassem Ibrahim, paramedis Unit Gawat Darurat, Rumah Sakit Samarra.Menurut versi warga Irak, tentara Amerika menyerang tanpa pandang bulu setelah para gerilyawan mundur. Kolonel Ismail Mahmud Mohammed, komandan polisi Samarra, mengatakan, baku tembak tentara Amerika dan gerilyawan berlangsung sekitar satu setengah jam. Pertempuran berhenti setelah gerilyawan mundur. "Kemudian pengeboman dimulai dengan semua bentuk senjata ke semua arah tanpa pandang bulu," kata polisi yang kesatuannya dibentuk Amerika itu. Malah, katanya, 20 terluka saat mereka salat di Masjid Al-Shafii.Korban sipil lain adalah dua warga Iran yang sedang lewat Samarra untuk ziarah. Bus yang ditumpangi menjadi arang di tempat yang hanya berjarak 30 meter dari gerbang rumah sakit. Selain dua tewas, sembilan orang cedera.Serangan tanpa pandang bulu juga diceritakan para pekerja pabrik bahan kimia milik negara yang diserang tank Amerika. Meriam tank Amerika menyalak ke arah mereka setelah salah satu pertempuran dengan gerilyawan berakhir. Akibatnya, menurut para pegawai, dua rekan mereka tewas selain banyak yang cedera. Korban cukup banyak karena saat itu pukul 12.55, tepat saat pergantian tugas pegawai."Ini peringatan, jika Anda berusaha menyerang konvoi kami," kata MacDonald, "kami akan menggunakan kekuatan senjata kami untuk menghentikan serangan."Amerika mengakui serangan di Samarra dilakukan gerilyawan secara terkoordinasi. Para perwira militer Amerika di Bagdad menyebutkan, tidak pernah ada pertempuran sekeras di Samarra sejak 1 Mei silam.November menjadi bulan paling gawat bagi Amerika sejak mereka menginvasi Irak. Sebanyak 104 tentara pendudukan, termasuk 79 Amerika, tewas hanya dalam sebulan. Personel dari negara-negara sekutu Amerika juga mulai banyak yang tewas. Paramiliter Italia, Carabinieri, sudah kehilangan 17 orang. Begitu pula dengan tujuh perwira intelijen Spanyol dan dua diplomat Jepang.Kemarin pun dua orang Korea Selatan, Kim Man-soo dan Kwak Kyung-hae, teknisi listrik Omu Electric yang dikontrak tentara Amerika, tewas dibunuh di Irak. Mereka menyusul orang Kolombia, kontraktor bagi pemerintah pendudukan, yang tewas sehari sebelumnya. AFP/AP/BBC/Nurkhoiri - Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.