Mari Bercocok Tanam di dalam Kutang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bra Berpanel Surya

    Bra Berpanel Surya

    TEMPO Interaktif, Tokyo -Benar-benar kreatif. Demi menggalakkan kecintaan wanita pada pertanian, produsen pakaian dalam asal Jepang, Triumph, merancang bra khusus yang bisa ditanami benih tanaman.

    Juru bicara Triumph, Yoshiko Masuda, menyatakan perusahaannya cemas menyaksikan keamanan pangan dan keselamatan lingkungan tengah terancam. Dengan membuat kutang "go green" itu mereka ingin menarik lebih banyak kaum urban agar peduli pertanian, apalagi beras adalah makanan pokok bangsa Jepang.

    "Wanita muda Jepang dahulu kala punya perhatian luar biasa di bidang pertanian. Kami ingin wanita perkotaan punya pengalaman bertani juga," ujar Masuda.

    Jadilah perusahaan ini merancang BH yang terbuat dari plastik yang dapat didaur ulang. Pada bagian luar "mangkuk" penyokong payudara bisa diisi media tanam dan benih padi. Kemudian untuk mengairi tanaman dipasang sebuah selang yang menyatu dengan sabuk yang dikenakan di pinggang.

    Pengguna bra ini dijamin tetap nyaman kendati di dalam pakaiannya tengah tumbuh beberapa batang padi. Perusahaan ini bahkan berpromosi bahwa petani perkotaan bisa menumbuhkan benih padi "dekat dengan hati mereka".

    Bra "cinta lingkungan" ini bukan satu-satunya produk eksentrik Triumph. Sebelumnya, mereka telah menciptakan bra dengan satu set sushi dan bra berpanel surya.

    Reuters | YR

    Polisi Duga Tersangka Teroris Bakal Lakukan Penyerangan 

    Bill Gates Kembangkan Teknologi Penguras Sperma

    Bangkok Berbahaya, Kedutaan Amerika Ditutup Sementara  

    Rooney Ingin Melatih Inggris

    Wanita Selundupkan Sabu di Celana Dalam, Ditangkap di Soekarno-Hatta 

    Mourinho: Saya Akan Melatih Real Madrid

    Fasih Baca Alquran Tanpa Kacamata di Usia 120 Tahun

    Barack Obama di Model Terbaik Ke-4 untuk Anak-anak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.