China Geber Latihan Militer, Warga Taiwan Tetap Santai dan Anggap Perang Masih Jauh

Reporter

Editor

Yudono Yanuar

Warga Taiwan mengambil gambar latihan militer tahunan dengan howitzer 155mm di daerah Pingtung, Taiwan selatan, 9 Agustus 2022. REUTERS/Ann Wang

TEMPO.CO, Jakarta - Warga Taiwan menanggapi latihan militer China besar-besaran dengan sikap tenang dan tidak percaya bahwa perang sudah dekat. Sebagian mengaku bangga dengan tekad pulau demokratis itu untuk mempertahankan diri.

China, menanggapi kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan pekan lalu, menurunkan kapal perang dan pesawat tempur melintasi penyangga tidak resmi antara Taiwan dan pantai China, serta melepas rudal di atas Taipei pekan lalu. Beijing bertekat melanjutkan latihan militernya, yang dinilai sebagai ancaman untuk Taiwan.

Namun sejumlah warga Taiwan, seperti Rosa Chang, melihat upaya China sebagai kekanak-kanakan.

"Ini seperti sekelompok anak yang mengancam Anda dan memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan. China benar-benar tidak harus melakukan semua ini," kata Chang, yang anaknya ambil bagian dalam latihan militer Taiwan, di Pingtung pekan ini.

Lou Wei-Chieh, seorang pejabat militer Taiwan, mengatakan kepada wartawan bahwa latihan perang dengan senjata berat dilakukan rutin setiap tahun dan  "tidak terkait dengan situasi saat ini".

China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak pernah mengesampingkan untuk mengambilnya dengan paksa, jika perlu.

Taiwan menolak klaim kedaulatan China, mengatakan penduduk pulau itu harus memutuskan masa depannya dan bersumpah untuk mempertahankan demokrasi dan kebebasannya. Taiwan mengatakan China menggunakan perjalanan Pelosi sebagai dalih untuk melakukan intimidasi yang telah lama dilakukan.  

"Kami hanya orang biasa, tidak ada yang bisa kami lakukan," kata seorang pria bernama Chen yang juga menonton latihan perang di pantai Pingtung, Selat Taiwan. "Jika terjadi sesuatu, tidak ada yang bisa kita lakukan."

Banyak orang di Taiwan mengatakan bahwa mereka terbiasa dengan keributan selama beberapa dekade dan tidak melihat alasan untuk khawatir.

Taiwan telah hidup di bawah ancaman invasi China sejak 1949 ketika pemerintah Republik China melarikan diri ke pulau itu setelah kalah dalam perang saudara dengan Partai Komunis Mao Zedong.

Warga Taiwan Tak Khawatir

Sebuah jajak pendapat yang diterbitkan minggu ini oleh Asosiasi Riset Opini Publik China Taiwan menunjukkan bahwa 60% responden tidak begitu khawatir atau tidak khawatir sama sekali bahwa akan ada perang antara Taiwan dan China.

"Kami tidak merasa gugup," kata Jenny Cheng, pegawai negeri berusia 23 tahun. "Tidak ada yang istimewa yang akan terjadi."

Robert Tsao, pendiri dan mantan ketua pembuat chip Taiwan United Microelectronics Corp, pekan lalu berjanji untuk menyumbangkan NT$3 miliar (hampir Rp1,5 troliun) untuk membantu Taiwan memperkuat pertahanannya.

China mengatakan minggu ini akan melakukan lebih banyak latihan yang berfokus pada operasi anti-kapal selam dan serangan laut - membenarkan kekhawatiran beberapa analis keamanan dan diplomat bahwa mereka akan terus menekan pertahanan Taiwan. 

Tetapi di pulau Liuqiu, sebuah tempat wisata yang indah di dekat salah satu daerah di mana militer China melakukan latihan pekan lalu, sebagian besar orang tidak peduli.

"Rasanya sangat normal," kata Chung Ping, 30 tahun, yang memiliki asrama menyelam. 

Dia mengatakan tidak ada yang membatalkan pemesanan liburan mereka. "Tidak mungkin konflik akan terjadi."

Reuters






Daftar 10 Negara Terbesar di Dunia, Indonesia Termasuk?

8 jam lalu

Daftar 10 Negara Terbesar di Dunia, Indonesia Termasuk?

10 negara terbesar di dunia berdasarkan luas wilayahnya dengan total area meliputi daratan dan daerah perairan


Malaysia Dikecam, Abstain dalam Sidang Dewan HAM PBB tentang Muslim Uyghur

11 jam lalu

Malaysia Dikecam, Abstain dalam Sidang Dewan HAM PBB tentang Muslim Uyghur

Keputusan Malaysia untuk abstain dari pemungutan suara dalam sidang Dewan HAM PBB tentang Uyghur adalah mengecewakan dan memalukan.


RI Tolak Bahas Uyghur di PBB, Kemlu Sebut Tak Mau Ada Politisasi

12 jam lalu

RI Tolak Bahas Uyghur di PBB, Kemlu Sebut Tak Mau Ada Politisasi

Kemlu RI menjelaskan alasan Indonesia menolak proposal pembahasan yang diajukan negara-negara Barat dalam Dewan HAM PBB tentang Uyghur.


Ini Dalih RI Tolak Usul AS Bahas Uyghur di Dewan HAM PBB

15 jam lalu

Ini Dalih RI Tolak Usul AS Bahas Uyghur di Dewan HAM PBB

Indonesia memandang pendekatan yang diajukan oleh negara pengusung dalam Dewan HAM mengenai Uyghur tidak akan menghasilkan kemajuan yang berarti.


Anggota Dewan HAM PBB Tolak Bahas Kasus Muslim Uyghur, termasuk Indonesia

19 jam lalu

Anggota Dewan HAM PBB Tolak Bahas Kasus Muslim Uyghur, termasuk Indonesia

"Kami tidak akan pernah menyerah tetapi kami sangat kecewa dengan reaksi negara-negara Muslim," kata presiden Kongres Uyghur Dunia.


Xi Jinping Diprediksi Akan Lebih Menekan Taiwan Jika Terpilih Jadi Presiden

1 hari lalu

Xi Jinping Diprediksi Akan Lebih Menekan Taiwan Jika Terpilih Jadi Presiden

Taiwan memprediksi pemaksaan dan intimidasi dari Cina akan meningkat begitu Presiden Xi Jinping mengambil masa jabatan ketiganya.


Taiwan Tak Mau Gantungkan Pertahanan ke Pihak Lain

1 hari lalu

Taiwan Tak Mau Gantungkan Pertahanan ke Pihak Lain

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyatakan tidak akan menggantungkan nasib pertahanan wilayahnya kepada pihak lain.


Pulau-pulau Wisata di Kepulauan Seribu yang Menarik untuk Liburan

1 hari lalu

Pulau-pulau Wisata di Kepulauan Seribu yang Menarik untuk Liburan

Sejumlah pulau di Kepulauan Seribu cocok untuk menjadi tujuan wisata singkat di akhir pekan.


Kapal Induk AS Mendekat, Korea Utara Uji Coba 2 Rudal ke Laut Arah Jepang

1 hari lalu

Kapal Induk AS Mendekat, Korea Utara Uji Coba 2 Rudal ke Laut Arah Jepang

Korea Utara kembali menembakkan rudal balistik jarak pendek ke laut arah Jepang setelah kembalinya kapal induk AS ke wilayah itu.


Taiwan: China telah Menghancurkan Kesepakatan di Selat Taiwan

2 hari lalu

Taiwan: China telah Menghancurkan Kesepakatan di Selat Taiwan

China telah menghancurkan kesepakatan diam-diam tentang gerakan militer di Selat Taiwan dengan melintasi 'garis tengah' tidak resmi yang mengalir di perairan itu.