Jepang Cabut Darurat Covid-19 Besok, Angka Kasus Baru Jadi Seribuan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung wanita berfoto bersama anjingnya saat menikmati keindahan mekarnya bunga sakura di tengah pandemi COVID-19 di Taman Ueno di Tokyo, Jepang, 27 Maret 2021.REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Pengunjung wanita berfoto bersama anjingnya saat menikmati keindahan mekarnya bunga sakura di tengah pandemi COVID-19 di Taman Ueno di Tokyo, Jepang, 27 Maret 2021.REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jakarta - Jepang akan mencabut keadaan darurat Covid-19 di semua wilayah pada Kamis, 30 September 2021,  karena jumlah kasus baru turun dan tekanan pada sistem medis mereda, kata Perdana Menteri Yoshihide Suga.

    Rencana tersebut membawa Jepang secara keseluruhan keluar dari keadaan darurat corona untuk pertama kalinya dalam hampir enam bulan.

    "Kasus baru harian turun, dari lebih dari 25.000 pada pertengahan Agustus menjadi 1.128 kemarin. Jumlah pasien dengan kondisi serius mengalami tren turun setelah memuncak pada awal September," kata Suga dalam pertemuan gugus tugas virus corona, seperti dikutip CNA, Selasa, 28 September 2021.

    "Berkat kemajuan dalam vaksinasi dan pemberian obat antibodi penetralisir, kita  memasuki fase di mana layanan medis dapat ditawarkan secara stabil bahkan jika tingkat infeksi tertentu terjadi," katanya.

    "Tingkat hunian tempat tidur rumah sakit di semua wilayah telah turun di bawah 50 persen. Jumlah orang yang sakit parah mencapai puncaknya pada awal September dan terus menurun."

    Sebelumnya, Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan beberapa pembatasan pada restoran dan acara berskala besar akan tetap berlaku selama sekitar satu bulan setelah pencabutan keadaan darurat untuk mencegah naiknya kasus.

    "Kasus baru pasti akan meningkat setelah keadaan darurat dicabut," Nishimura, yang juga mengawasi penanganan virus corona Jepang.

    "Kami perlu melanjutkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah lonjakan lagi," katanya, dan menambahkan bahwa jika kasus melonjak lagi, pemulihan "kuasi darurat" yang lebih terbatas dimungkinkan.

    Restoran di area di bawah pembatasan darurat sekarang diharuskan tutup pada pukul 8 malam dan tidak menyajikan minuman beralkohol.

    Nishimura mengatakan pemerintah akan memperkenalkan sistem sertifikasi di mana hanya restoran yang disetujui yang bisa tetap buka sampai jam 9 malam, meskipun larangan alkohol akan dicabut kecuali jika gubernur prefektur keberatan.

    Seperti banyak negara lain, Jepang telah berjuang untuk menahan penyebaran varian Delta yang sangat menular - termasuk dalam Olimpiade Musim Panas - menjaga sebagian besar negara di bawah pembatasan darurat.

    Reuters melaporkan, kasus baru Covid-19 harian di Tokyo telah turun menjadi sekitar 550 dalam beberapa hari terakhir, yakni sepersepuluh dari jumlah kasus pada puncak wabah pada Agustus.

    Dalam pertemuan para ahli kesehatan pada Jumat, Gubernur Tokyo Yuriko Koike menekankan pentingnya untuk menaikkan tingkat vaksinasi.

    Dia menyebutkan bahwa sekitar 80 persen kematian akibat Ccovid-19 di Tokyo sejak Agustus terjadi di antara orang-orang yang tidak divaksin.

    Program vaksin negara dimulai dengan lambat tetapi telah meningkat pesat, dengan 58 persen populasi sekarang diinokulasi penuh, lebih banyak dari Amerika Serikat. Pemerintah Jepang mengatakan bahwa semua orang yang menginginkan vaksinasi akan mendapatkannya pada bulan November.

    Pandemi ini pula yang membuat Suga, yang menjabat pada September 2020 mengundurkan diri. Ketidakpopulerannya sebagian diakibatkan respons pemerintah yang dianggap kurang cepat dalam menangani Covid-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Persebaran Pengungsi di Indonesia Menurut UNHCR

    PBB mengucurkan dana untuk program respons sosial ekonomi inklusif untuk menghadapi Covid-19. UNHCR mendata persebaran penerima manfaat di Indonesia.