China Bangun Proyek Lithium di Sulawesi Senilai Hampir Rp 5 Triliun

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kegiatan pekerja di Indonesia Morowali Industrial Park pada Senin-Selasa, 6-7 Agustus 2018, Morowali, Sulawesi Tengah. TEMPO/Kartika Anggraeni

    Kegiatan pekerja di Indonesia Morowali Industrial Park pada Senin-Selasa, 6-7 Agustus 2018, Morowali, Sulawesi Tengah. TEMPO/Kartika Anggraeni

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua investor dari China, Shenzhen Chengxin Lithium Group Co Ltd China dan Tsingshan Holding Group yang merupakan afiliasi raksasa baja dan nikel akan menanamkan investasi dalam proyek lithium di Indonesia. Dilansir dari Reuters, pabrik lithium bernilai US$ 350 juta atau hampir Rp 5 triliun untuk itu untuk memenuhi permintaan baterai kendaraan listrik (EV).

    Tsingshan, mengguncang pasar nikel global karena berhasil meningkatkan produksi berbiaya rendah di Indonesia. Perusahaan ini memproduksi lithium pada saat harga komoditas tersebut melonjak di tengah naiknya penjualan kendaraan listrik di pasar China.

    Chengxin menyatakan para mitra akan membangun pabrik untuk membuat bahan kimia lithium di Morowali Industrial Park di pulau Sulawesi. Di Morowali ada beberapa proyek investasi China termasuk yang pabrik nikel dan kobalt, yang juga digunakan dalam baterai EV.

    Pabrik ini, kata Chengxin dalam pernyataannya seperti dikutip Reuters, akan menghasilkan 50.000 ton per tahun lithium hidroksida dan 10.000 ton per tahun lithium karbonat. Namun belum ada keterangan resmi kapan produksi lithium akan dimulai.

    Harga hidroksida di China naik 162,7 persen year-to-date, sedangkan untuk karbonat naik 192,6 persen, menurut Benchmark Mineral Intelligence.

    Chengxin mengatakan akan menguasai 65 persen saham dari perusahaan patungan bernama PT ChengTok Lithium Indonesia, Sisanya yaitu 35 persen dikuasai oleh perusahaan yang didaftarkan di Singapura, Stellar Investment Pte.

    Seorang pejabat hubungan investor Chengxin pada hari Jumat mengatakan Stellar adalah afiliasi dari Tsingshan. Tsingshan tidak menanggapi permintaan konfirmasi.

    Indonesia adalah penambang nikel terbesar di dunia. Sejak 2020, Indonesia melarang ekspor bijih nikel. Pembangunan smelter di dalam negeri ditargetkan bisa menyerap lebih banyak sumber daya.

    Pekan lalu, LG Energy Solution Korea Selatan dan Hyundai Motor Group memulai pembangunan pabrik senilai $ 1,1 miliar untuk membuat baterai kendaraan listrik di provinsi Jawa Barat, Indonesia.

    Chengxin tidak mengatakan dari mana pabrik lithium akan mendapatkan bahan bakunya. Namun analis Daiwa Capital Markets Dennis Ip mengatakan kemungkinan bahan baku berasal dari Australia, yang menambang mineral spodumene yang kaya lithium.

    “Akan menarik untuk melihat penambang Australia mana yang memiliki sumber daya spodumene cadangan untuk dijual ke Chengxin,” ujar Dennis Ip.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.