Malaysia Bandingkan Vaksin Sinovac dengan Pfizer dan AstraZeneca, Hasilnya?

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah alat kesehatan Vaksin Sinovac untuk warga pesisir dalam rangka program serbuan vaksin COVID-19 di Desa Juwata Laut, Tarakan Utara, Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat, 17 September 2021. Dikses Lantamal XIII telah melaksanakan sebanyak 59.030 vaksin ke masyarakat dengan tujuh satuan kerja yaitu Tarakan, Nunukan, Balikpapan, Sanggatta, Banjarmasin, Kota Baru dan RSAL Iyas Tarakan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Sejumlah alat kesehatan Vaksin Sinovac untuk warga pesisir dalam rangka program serbuan vaksin COVID-19 di Desa Juwata Laut, Tarakan Utara, Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat, 17 September 2021. Dikses Lantamal XIII telah melaksanakan sebanyak 59.030 vaksin ke masyarakat dengan tujuh satuan kerja yaitu Tarakan, Nunukan, Balikpapan, Sanggatta, Banjarmasin, Kota Baru dan RSAL Iyas Tarakan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah studi yang dilakukan di Malaysia mengungkap efektivitas ketiga vaksin yaitu Sinovac, Pfizer/BioNTech dan AstraZeneca dalam melawan covid-19. Hasilnya, ketiga vaksin tersebut memberi perlindungan dalam melawan virus corona.

    Dalam studi tersebut, vaksin buatan sinovac sangat efektif melawan penyakit serius akibat covid-19. Namun vaksin Pfizer/BioNTech dan Astrazeneca memberi perlindungan yang lebih baik terhadap gempuran virus corona.

    Vaksin Sinovac sebelumnya disorot karena banyaknya tenaga kesehatan di Indonesia dan Thailand yang terinfeksi corona. Para tenaga kesehatan itu sudah mendapat vaksin penuh dari Sinovac.

    Studi yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia menemukan bahwa 0,011 persen dari 7,2 juta penerima suntikan Sinovac memerlukan perawatan di unit perawatan intensif (ICU) akibat infeksi COVID-19, menurut pejabat kesehatan di Malaysia.

    Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan penerima vaksin Pfizer yang hanya 0,002 persen dari sekitar 6,5 juta penerimanya yang harus dirawat di ICU. Sedangkan penerima vaksin AstraZeneca hanya 0.001 persen dari 744.958 orang yang yang harus dirawat di ICU.

    Kalaiarasu Peariasamy, direktur di Institute for Clinical Research yang melakukan penelitian bersama dengan gugus tugas COVID-19 nasional, mengatakan vaksinasi apapun mereknya, telah mengurangi risiko penderita masuk ke ICU sebesar 83 persen. Risiko kematian juga turun sebesar 88 persen berdasarkan penelitian yang melibatkan sekitar 1,26 juta orang.

    Tingkat kematian orang yang divaksinasi lengkap juga rendah yaitu 0,01 persen, dan mayoritas dari mereka berusia di atas 60 tahun atau dengan penyakit penyerta.

    "Ada perbedaan demografi penerima ketiga vaksin dengan hasil yang berbeda," kata Kalaiarasu.

    Banyak penerima AstraZeneca adalah usia pertengahan hingga dewasa. Sedangkan penerima vaksin Pfizer serta Sinovac banyak untuk populasi yang rentan.

    Penerima AstraZeneca juga menyumbang proporsi penelitian yang jauh lebih kecil dengan melibatkan 14,5 juta individu yang sudah divaksinasi lengkap sejak 1 April.

    Pada bulan Juli, Malaysia mengatakan akan menghentikan pemberian vaksin Sinovac setelah persediaannya berakhir. Alasannya Malaysia sudah memiliki cukup banyak vaksin lain.

    Selain Indonesia, vaksin Sinovac digunakan di sejumlah negara yaitu China, Thailand dan Brasil untuk melawan covid-19. Perusahaan ini mengatakan telah memasok 1,8 miliar dosis di dalam dan luar negeri.

    Baca: Kembangkan Vaksin Covid-19 Baru, Bio Farma Gandeng Perusahaan AS Dynavax

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.