Rusuh Unjuk Rasa Anti-Lockdown COVID-19 di Australia, Polisi Tangkap 200 Orang

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perempuan mengenakan masker berjalan melalui pusat kota selama penguncian untuk mengekang penyebaran wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Sydney, Australia, 7 Juli 2021. [REUTERS/Loren Elliott]

    Seorang perempuan mengenakan masker berjalan melalui pusat kota selama penguncian untuk mengekang penyebaran wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Sydney, Australia, 7 Juli 2021. [REUTERS/Loren Elliott]

    TEMPO.CO, Jakarta - Unjuk rasa Anti-Lockdown di Australia pada Sabtu kemarin berujung rusuh. Aparat dan demonstran bentrok yang menyebabkan sejumlah orang mengalami cedera. Menurut laporan kantor berita Reuters, Kepolisian Australia telah menangkap kurang lebih 270 orang demonstran. Rinciannya, 235 orang ditangkap di Melbourne dan 35 ditangkap di Sydney.

    "Enam polisi membutuhkan pertolong medis. Beberapa dari mereka terjatuh dan terinjak-injak," ujar keterangan Kepolisian Negara Bagian Victoria, Ahad, 19 September 2021.

    Di Melbourne, kurang lebih ada 700 demonstran yang berkumpul untuk menggelar unjuk rasa. Untuk mengendalikan unjuk rasa, kepolisian setempat menerjunkan 2000 personil dan menutup akses ke pusat kota. Di beberapa titik kota Melbourne juga didirikan pusat pemeriksaan dan barikade. Selain itu, transportasi publik dimatikan.

    Kepolisian di Sydney melakukan hal serupa. Mereka menerjunkan pasukan anti huru-hara, polisi lalu lintas, hingga detektif untuk mengawal dan mengendalikan jalannya unjuk rasa. Mereka tidak ingin sampai terjadi perkumpulan dalam jumlah besar dan kerusuhan. Sebagaimana disebutkan di atas, upaya pengendalian itu gagal.

    Sebagai catatan, Australia sudah beberapa bulan terakhir berhadapan dengan varian Delta COVID-19. Sejak pertengahan Juni 2021, kebijakan lockdown beberapa kali diterapkan untuk mengendalikan pandemi. Dari sekian banyak kota, Sydney, Melbourne, dan Canberra adalah kota yang paling terdampak dan seudah menjalani lockdown selama berminggu-minggu.

    Pemerintah Australia telah menyampaikan, lockdown di Sydney, Melbourne, dan Canberra akan dibuka apabila 70 persen penduduknya tetalh tervaksinasi penuh. Mengacu pada kecepatan kampanye vaksinasi COVID-19 sekarang, Pemerintah Australia memasang estimasi target tercapai Oktober atau November.

    Menggunakan strategi lockdown, pertumbuhan kasus dan kematian baru relatif terkendali di Australia. Per berita ini ditulis, total ada 85.648 kasus dan 1.162 korban meninggal akibat COVID-19. Per harinya, jumlah kasus bisa bertambah hingga 1800 orang. Tantangannya adalah mempertahankan pengendalian tersebut di saat masih banyak warga yang memprotes dan mempertanyakannya.

    "Sungguh mengecewakan melihat kejadian di mana minoritas kecil mengabaikan protokol kesehatan dan keamanan tidak hanya untuk polisi, tetapi juga warga Victoria lainnya," ujar Kepolisian Victoria, Australia, dalam keterangannya.

    Baca juga: Pandemi Memburuk, Australia dan Selandia Baru Belanja Ekstra Vaksin COVID-19

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Persebaran Pengungsi di Indonesia Menurut UNHCR

    PBB mengucurkan dana untuk program respons sosial ekonomi inklusif untuk menghadapi Covid-19. UNHCR mendata persebaran penerima manfaat di Indonesia.