Kelompok Pemberontak Myanmar Mendapat Vaksin COVID-19 dari Cina

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang relawan memeriksa suhu tubuh seorang pria di pintu masuk Rumah Sakit Sittwe, di tengah merebaknya penyakit virus corona (Covid-19), di Sittwe, Rakhine State, Myanmar 24 Agustus 2020. [REUTERS / Stringer]

    Seorang relawan memeriksa suhu tubuh seorang pria di pintu masuk Rumah Sakit Sittwe, di tengah merebaknya penyakit virus corona (Covid-19), di Sittwe, Rakhine State, Myanmar 24 Agustus 2020. [REUTERS / Stringer]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Cina ternyata tidak hanya menyumbangkan vaksin COVID-19 ke junta Myanmar, tetapi juga pada kelompok pemberontak. Dikutip dari Channel News Asia, Cina mensuplai kurang lebih ribuan dosis vaksin COVID-19 kepada kelompok pemberontak di wilayah perbatasan.

    Kelompok terkait adalah Tentara Pembebasan Kachin yang menerima kurang lebih 10 ribu dosis vaksin COVID-19 dari Pemerintah Yunnan, Cina. Adapun Kachin, selama ini, aktif melawan Militer Myanmar di wilayah perbatasan apalagi setelah Panglima Militer Jenderal Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintahan pada 1 Februari lalu.

    "Tentara Pembebasan Kachin meminta bantuan ke Cina dan Cina menolong kami dengan vaksin COVID-19," ujar keterangan pers Tentara Pembebasan Kachin, Ahad, 25 Juli 2021.

    Tentara Pembebasan Kachin melanjutkan bahwa tidak semua vaksin diberikan Cina sebagai donasi. Beberapa di antaranya mereka bayar sendiri. Walau begitu, Tentara Pembebasan Kachin tidak menyebutkan secara detil rinciannya.

    Vaksin sinopharm. REUTERS

    Adanya bantuan dari Cina terhadap kelompok pemberontak di wilayah perbatasan patut diduga sebagai upaya mencegah penyebaran virus. Awal pekan ini, Pemerintah Cina melaporkan bahwa ada banyak kasus baru COVID-19 berasal dari wilayah perbatasan, salah satunya provinsi Yunnan yang berbatasan langsung dengan Cina.

    Di luar alokasi untuk Tentara Pembebasan Kachin, Pemerintah Cina juga menyumbang vaksin COVID-19 ke junta Myanmar. Jumlahnya kurang lebih 736 ribu dosis, bermerk Sinopharm, dan diterima di Yangon pada hari Kamis kemarin.

    Meski dosis vaksin COVID-19 sudah dikirim ke Myanmar, hal itu tidak menjamin kampanye vaksinasi akan berlangsung cepat dan massif. Sejak pemerintahan dikudeta oleh Militer Myanmar, para dokter dan petugas medis memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Hal itu otomatis berdampak pada pengendalian dan pemantauan pandemi.

    Di sisi lain, junta Myanmar tidak mencoba membujuk para dokter dan petugas medis untuk bekerja kembali. Mereka malah dikabarkan telah memenjarakan sejumlah dokter dan petugas medis yang dianggap telah memprortes kudeta. 

    Baca juga: Tahanan di Penjara Yangon Memprotes Junta Militer Myanmar

    CHANNEL NEWS ASIA | ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.