Negara Bagian Arizona Gunakan Gas Nazi Untuk Eksekusi Mati Terpidana

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tumpukan kaleng kosong Zyklon B yang berada di kamp konsentrasi Auschwitz, Oswiecim, 19 Januari 2015. Pada 27 Januari 1945 para tahanan di kamp konsentrasi dibebaskan oleh Tentara Merah, Uni Soviet. REUTERS/Pawel Ulatowski

    Tumpukan kaleng kosong Zyklon B yang berada di kamp konsentrasi Auschwitz, Oswiecim, 19 Januari 2015. Pada 27 Januari 1945 para tahanan di kamp konsentrasi dibebaskan oleh Tentara Merah, Uni Soviet. REUTERS/Pawel Ulatowski

    TEMPO.CO, Jakarta - Negara bagian Arizona telah memperbarui ruang gasnya untuk kembali menerapkan eksekusi mati. Pada tahun 2014, penerapan eksekusi mati di sana dihentikan untuk sementara waktu karena kesalahan teknis pada penggunaan injeksi. Adapun gas yang bakal digunakan adalah gas yang sama dipakai Nazi di kamp konsentrasinya.

    Menurut laporan Al Jazeera, ruang gas Lembaga Permasyarakatan Arizona terakhir kali dipakai 22 tahun lalu. Untuk bisa kembali digunakan, sejumlah perbaikan harus dilakukan mulai dari jendela hingga pintu kamar. Dengan begitu, gas beracun tertahan di dalam ruangan dan bisa difilter sebelum dibuang.

    Keputusan Arizona untuk kembali menggunakan ruang gas tak ayal mendapat reaksi keras dari penentang hukuman mati. Menurut mereka, Arizona telah kehilangan akal saat memutuskan untuk memakai teknologi yang sama dipakai Nazi untuk membunuh banyak orang.

    "Jujur penasaran apa yang berada di pikiran Pemerintah Arizona ketika menyetujui eksekusi mati di tahun 2021 dengan teknologi ruang gas dan gas sianida," ujar Direktur Eksekutif Death Penalty Information Center, Robert Dunham, Rabu waktu setempat, 2 Juni 2021.

    Hal senada disampaikan oleh professor hukum dari Fordham University, Deborah Denno. Ia berkata, eksekusi mati dengan gas beracun, terutama hidrogen sianida, adalah hal yang tidak manusiawi. Sebab, terpidana tidak mati seketika, tetapi secara perlahan dan penuh siksaan.

    "Tidak bisa dipungkiri bahwa gas yang akan dipakai Arizona adalah cara eksekusi paling kejam di Amerikan," ujar Denno.

    Merespon kritik yang ada, Pemerintah Arizona menyatakan secara hukum eksekusi mati masih diperbolehkan, apapun bentuknya. Oleh karenanya, mereka berkata Lapas Arizona bisa melakukan tugasnya tanpa kekhawatiran melanggar hukum.

    Sebagai catatan, Arizona adalah 1 dari 27 negara bagian Amerika yang masih memberlakukan hukuman mati. Sejauh ini, mereka memiliki 115 terpidana yang mengantri untuk dieksekusi.

    Hukum negara bagian Arizona memperbolehkan terpidana untuk memilih antara mau dieksekusi dengan injeksi racun atau dimasukkan ke ruang gas. Namun, menipisnya supplai injeksi racun membuat ruang gas, cepat atau lambat, menjadi pilihan eksekusi mati yang tak bisa dihindari.

    Baca juga: Vonis Hukuman Mati Naik 46 Persen di Tahun Pandemi Covid-19

    ISTMAN MP | AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.