Tingkatkan Tekanan, Amerika Beri Sanksi Baru ke Militer Myanmar

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengunjuk rasa terlibat bentrok dengan petugas keamanan di tengah aksi protes anti-kudeta di Hlaing Township di Yangon, Myanmar, 17 Maret 2021. REUTERS/Stringer

    Para pengunjuk rasa terlibat bentrok dengan petugas keamanan di tengah aksi protes anti-kudeta di Hlaing Township di Yangon, Myanmar, 17 Maret 2021. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Belum juga berakhirnya kudeta Myanmar oleh junta militer membuat Amerika gerah. Oleh karenanya, mereka menerbitkan sanksi baru untuk meningkatkan tekanan ke Militer Myanmar. Dikutip dari kantor berita Reuters, ada dua pejabat dan dua unit Militer Myanmar yang menjadi sasaran sanksi baru Amerika.

    "Aksi kami hari ini adalah penegasan bahwa kami akan terus melawan pemimpin kudeta dan mereka yang memicu kekerasan di Myanmar," ujar Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken, Senin, 22 Maret 2021.

    Sebagaimana diketahui, kudeta Myanmar sudah berjalan sejak 1 Februari lalu. Aksi yang dipicu kekalahan partai afiliasi militer di pemilu tahun lalu tersebut telah memakan korban jiwa kurang lebih 250 orang. Mayoritas dari mereka ditembak oleh aparat Militer Myanmar yang mengklaim tidak menyangka akan mendapat perlawanan dari warga.

    Sanksi ke Militer Myanmar kali ini bukan yang pertama dari Amerika. Mereka sudah menerbitkan berbagai sanksi sebelumnya, termasuk sanksi-sanksi yang berkaitan dengan krisis Rohingya pada 2017. Namun, khusus kudeta Myanmar, sanksi dari Amerika secara spesifik menyasar mereka yang berada di Militer Myanmar dan segala hal yang menyokong operasional mereka.

    Pada sanksi terbaru, salah satu pejabat Militer Myanmar yang terkena sanksi adalah Than Hlaing. Ia adalah Kepala Kepolisian Militer yang dilantik usai kudeta dimulai. Sosok kedua adalah Aung Soe, Jenderal Komando Pasukan Khusus yang mengawasi langsung pembantaian terhadap demonstran Myanmar.

    Selanjutnya, untuk dua unit militer yang dikenai sanksi, mereka adalah Divisi Infantri Ringan 77 dan 33. Selama kudeta berlangsung, mereka menjadi ujung tombak Militer Myanmar untuk menekan demonstrasi di dua kota terbesar Myanmar, Yangon dan Mandalay.

    Dengan sanksi dari Amerika, maka Thn Hlaing, Aung Soe, dan semua personil dari Divisi Infantri Ringan terkait tidak bisa lagi berkunjung ke Amerika. Selain itu, mereka juga tidak bisa lagi mengakses layanan finansial, mengambil aset, ataupun bertransaksi dengan entitas di Amerika.

    "Rekaman video yang kami terima menunjukkan bagaimana aparat Militer Myanmar menaiki truk sambil menembaki warga beserta rumahnya," ujar Pemerintah Amerika dalam keterangan persnya.

    Sebelumnya, Uni Eropa sudah lebih dulu memberikan sanksi baru kepada Myanmar. Adapun Uni Eropa memberi sanksi kepada 11 orang yang dianggap terlibat dan bertanggung jawab atas kudeta Myanmar.

    Baca juga: Kudeta Myanmar: Uni Eropa Beri Sanksi Pada 11 Orang

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.