Bubarkan Pesta di Tengah Pandemi, Polisi Inggris Dilempari Batu

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi bertepuk tangan di Jembatan Westminster untuk mendukung petugas medis di tengah wabah virus Corona, di London, Inggris, 16 April 2020. Dalam aksi yang diberi nama Clap for Cares ini, warga termasuk petugas keamanan hingga pemadam kebakaran akan bertepuk tangan bersama untuk menyemangati para petugas medis. REUTERS/Hannah Mckay

    Polisi bertepuk tangan di Jembatan Westminster untuk mendukung petugas medis di tengah wabah virus Corona, di London, Inggris, 16 April 2020. Dalam aksi yang diberi nama Clap for Cares ini, warga termasuk petugas keamanan hingga pemadam kebakaran akan bertepuk tangan bersama untuk menyemangati para petugas medis. REUTERS/Hannah Mckay

    TEMPO.CO, Jakarta - Nasib sial menimpa personil Kepolisian London, Inggris. Berniat membubarkan pesta karena ilegal dan berbahaya di tengah pandemi Corona, mereka malah dikeroyok dan dilempari batu. Hal itu terjadi pada Kamis kemarin di Notting Hill, London Barat.

    Dikutip dari Reuters, pesta dalam bentuk apapun dilarang di Inggris selama pandemi virus Corona. Hal tersebut untuk memastikan jarak fisik antar warga terjaha demi menekan penyebaran virus Corona. Namun, menurut pengakuan Kepolisian London, masih banyak warga yang membandel.

    "Kami tahu bahwa pembatasan sosial selama berbulan-bulan membuat warga frustasi dan ingin menghabiskan waktu bersama-sama. Tapi, pesta rave ilegal tidak bisa diterima untuk saat ini," ujar Sekretaris Lingkungan, George Eustice, Jumat, 26 Juni 2020.

    Eustice menambahkan bahwa dalam sepekan ini Kepolisian London sudah menghadapi dua pesta llegal. Dua-duanya berujung pada pada penyerangan atau pengeroyokan pada personil Kepolisian.

    Rabu lalu, 22 personil Kepolisian London dihajar oleh warga ketika mereka mencoba membubarkan pesta di Brixton, London Selatan. Selain mereka menderita cedera, sejumlah mobil Kepolisian London juga rusak karena menjadi target vandalisme.

    Menteri Dalam Negeri Inggris, Priti Patel, menyayangkan sikap warga yang membandel dari pembatasan sosial. Ia menyebutnya sebagai aksi yang biadab. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan bahwa kekerasan terhadap personil Kepolisian yang bertugas tak bisa diterima.

    Hingga berita ini ditulis, Inggris tercatat memiliki 307 ribu kasus dan 43 ribu korban meninggal akibat virus Corona (COVID-19).

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.