Amerika Blacklist 30 Institusi dan Perusahaan Asal Cina

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil PM Cina, Liu He, saat akan menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama di Gedung Putih, Rabu, 15 Januari 2020. REUTERS/Kevin Lamarque

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil PM Cina, Liu He, saat akan menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama di Gedung Putih, Rabu, 15 Januari 2020. REUTERS/Kevin Lamarque

    TEMPO.CO, Jakarta - Perseturuan Cina dan Amerika belum usai. Perkembangan terbaru, Amerika memasukkan 33 perusahaan Cina dalam daftar hitam. Penyebabnya, karena mereka terlibat dalam operasi mata-mata Uighur atau pengembangan senjata pemusnah massal untuk militer Cina.

    "Mereka telah mendukung Cina dalam melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Cina telah bertindak represif, tidak adil, dan menerapkan pengawasan berteknologi canggih terhadap komunitas Uighur," ujar Departemen Perdagangan Amerika sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Sabtu, 23 Mei 2020.

    Ada berbagai jenis perusahaan yang masuk ke dalam daftar hitam tersebut. Beberapa di antaranya adalah perusahaan komersil, perusahaan milik negara, serta penyedia teknologi militer seperti kecerdasan buatan dan pemindai wajah.

    Salah satu contoh perusahaan dari daftar tersebut adalah NetPosa. NetPosa adalah pengembang kecerdasan buatan (AI) yang teknologi pemindai wajahnya digunakan Cina untuk mengawasi komunitas muslim Uighur.

    Selain NetPosa, ada juga CloudMinds, perusahaan pengembang komputasi awan yang masuk ke dalam portofolio Softbank Group. Dalam keterangan Departemen Perdagangan Amerika, CloudMinds masuk ke dalam daftar hitam karena melakukan transfer teknologi dari Amerika ke Cina.

    Qihoo360, yang sempat menjadi sorotan karena menuduh CIA telah meretas Pemerintah Cina, juga masuk dalam daftar terlarang. Walau tidak disebutkan secara detil apa alasannya, diduga kuat hal itu berkaitan dengan klaimnya soal peretasan oleh CIA.

    NetPosa, CloudMinds, maupun Qihoo belum memberikan komentar hingga berita ini ditulis.

    Xilink, yang menggarap chip untuk perusahaan-perusahaan teknologi Cina, membenarkan soal adanya blacklisting dari Departemen Perdagangan Amerika. Perusahaan yang berbasis di San Jose itu mengetahuinya setelah klien mereka masuk dalam daftar hitam Amerika.

    "Kami tahu betul perkembangan terbaru terkait daftar hitam Kementerian Perdagangan dan bagaimana mereka tengah mengevaluasi dampak ekonominya. Kami patuh terhadap aturan yang mereka tetapkan," ujar Xilinx dalam keterangan persnya.

    Blacklisting perusahaan dan institusi Cina ini bukan yang pertama kalinya bagi Amerika. Oktober lalu, Amerika memasukkan 28 perusahaan Cina, yang bergerak dalam bidang keamanan, dalam daftar hitam. Alasannya masih sama, penindasan terhadap Uighur.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.