Taliban dan Abdullah Menjadi PR Presiden Afghanistan yang Baru

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Afganistan Mohammad Ashraf Ghani (ketiga kiri) memberi salam saat Salat Magrib di Masjid Istiqlal, Jakarta, 6 April 2017. ANTARA FOTO

    Presiden Afganistan Mohammad Ashraf Ghani (ketiga kiri) memberi salam saat Salat Magrib di Masjid Istiqlal, Jakarta, 6 April 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ashraf Ghani kembali menjadi Presiden Afghanistan untuk kedua kalinya pada hari ini, Senin, 9 Maret 2020. Ia dilantik di Istana Kepresidenan, Kabul yang sempat diwarnai dengan desingan suara roket yang meluncur ke arah lokasi pelantikannya.

    Ghani menyampaikan bahwa setelah pelantikannya, ia memiliki dua PR yang harus ia selesaikan segera. Pertama adalah soal negosiasi intra Afghanistan, antara pihaknya dengan kelompok pemberontak Taliban. Taliban, kata ia, meminta ia untuk segera membuat keputusan soal pelepasan anggota mereka yang dipenjara Afghanistan.

    "Finalisasi tim negosiator untuk berbicara dengan Taliban ditargetkan selesai pada hari Selasa," sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 9 Maret 2020.

    Dalam pemberitaan sebelumnya, Taliban meminta Ghani untuk membebaskan 5000 anggota mereka yang dipenjara Afghanistan. Alasan yang dipakai Taliban, karena pembebasan anggota masuk dalam kesepakatan damai antara Taliban - Amerika yang difasilitasi Afghanistan.

    Ghani menolak permintaan tersebut. Sejauh yang ia tahu, tidak ada poin di kesepakatan damai Taliban - Amerika yang mengharuskan dirinya membeaskan anggota Taliban. Ia bersikeras bahwa pembebasan akan difasilitasi apabila ada kesepakatan antara Amerika, Taliban, dan Afghanistan soal mekanismenya.

    Keputusan Ghani mendorong Taliban menyerang pos pemeriksaan Afghanistan beberapa kali. Hal itu membuat pelaksanaan gencataan senjata antara Taliban - Amerika tertunda karena Amerika kemudian membantu Afghanistan melakukan serangan balik.

    Untuk PR kedua, kata Ghani, adalah Abdullah Abdullah. Abdullah adalah rival Ghani di Pemilu Afghanistan. Ketika Ghani dilantik sebagai presiden, Abdullah menolak mengakuinya dan memilih untuk membuat pelantikan tandingan.

    Ghani mengatakan, dirinya menginginkan pemerintahan Afghanistan yang inklusif. Dengan kata lain, ia terbuka untuk menerima kubu Abdullah di dalam koalisi pemerintahannya. Ghani pun mengaku akan menggelar pembicaraan dengan Abdullah soal itu, "Setelah itu, kami akan membentuk pemerintahan yang inklusif," ujarnya.

    Mengutip Reuters, negosiasi antara Ghani dan Abudllah akan melibatkan utusan khusus asal Amerika, Zalmay Khalilzad. Khalilzad beberapa kali melobi kedua pihak untuk membuat kesepakatan. Namun, hingga jam pelantikan, kesepakatan tidak tercapai.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.