Tolak Ghani Jadi Presiden Afghanistan, Rival Lantik Diri Sendiri

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Afganistan, Ashraf Ghani. Reuters

    Presiden Afganistan, Ashraf Ghani. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Peristiwa familiar terjadi di pengumuman pemilu Afghanistan. Ketika Ashraf Ghani mengucapkan sumpah sebagai Presiden Afghanistan untuk kedua kalinya, rivalnya, Abdullah Abdullah, melakukan hal serupa. Gara-garanya, Abdullah tidak mengakui hasil pemilu yang memenangkan Ghani.

    "Rivalnya (Abdullah Abdullah) tidak mengakui inagurasi tersebut dan memilih untuk menggelar acara pengucapan sumpah untuk dirinya sendiri," sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 9 Maret 2020.

    Belum diketahui apa yang menyebabkan Abdullah enggan mengakui hasil pemilu di Afghanistan. Mengutip Reuters, hal itu diduga karena kubu Abdullah dan kubu Ghani gagal mencapai kesepakatan perihal bagaimana pemerintahan Afghanistan akan dijalankan nantinya.

    Sementara itu, dalam acara pengucapan sumpah Ghani, yang dilangsungkan di Istana Kepresidenan Kabul, berbagai figur politisi dan diplomat hadir untuk merayakannya. Salah satunya adalah utusan khusus asal Amerika, Zalmay Khalilzad.

    Sebagai catatan, Ghani menjadi sorotan akhir-akhir ini karena keterlibatannya dalam kesepakatan damai Amerika - Taliban. Pelaksanaan kesepakatan tersebut tidak berjalan mulus karena Ghani menolak melepas ribuan anggota Taliban yang dipenjara. Alhasil, Taliban beberapa kali menyerang Afghanistan sebagai bentuk protes. 

    Efek sampingnya, Amerika juga menjadi terpaksa harus menyerang Taliban. Dalam kesepakatan damai keduanya, apabila Taliban gagal menunjukkan komitmennya untuk melakukan gencatan senjata, maka Amerika berhak menyerang mereka. 

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.