Oposisi Tolak Kemenangan Ashraf Ghani dalam Pemilu Afganistan

Kepala Eksekutif Afganistan Abdullah Abdullah setelah wawancara dengan Reuters di New Delhi, India, 4 Februari 2016. [REUTERS / Adnan Abidi]

TEMPO.CO, Jakarta - Kandidat petahana Ashraf Ghani dan kandidat oposisi saling klaim memenangkan pemilu Afganistan pada Selasa kemarin.

Abdullah Abdullah, saingan utaman Ghani menolak hasil pemilu dan bersumpah untuk membentuk pemerintahannya sendiri, berisiko memunculkan gejolak baru ketika Amerika Serikat berusaha untuk menutup kesepakatan penarikan pasukan AS dengan gerilyawan Taliban.

Pemungutan suara yang diadakan pada 28 September memilih presiden Afganistan untuk keempat kalinya sejak pasukan pimpinan AS menggulingkan pemerintah Taliban pada tahun 2001. Namun proses itu dirusak oleh tuduhan kecurangan, masalah teknis dengan perangkat biometrik yang digunakan untuk pemilihan, serangan dan penyimpangan lainnya.

Dikutip dari Reuters, 19 Februari 2020, Ghani memenangkan 50,64% suara, kata Komisi Pemilihan Independen (IEC) pada hari Selasa. Sementara Abdullah Abdullah, mantan wakil dan saingan utama Ghani, terpilih pada peringkat kedua dengan 39,52% suara.

Ashraf Ghani telah secara resmi dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden Afghanistan, hampir lima bulan setelah pemilihan berlangsung pada 28 September tahun lalu, dikutip dari CNN.

Namun, Abdullah Abdullah mengatakan dia dan sekutunya telah memenangkan pemilihan dan akan membentuk pemerintah.

"Hasil yang mereka (IEC) umumkan hari ini adalah hasil dari perampokan pemilu, kudeta terhadap demokrasi, pengkhianatan kehendak rakyat, dan kami menganggapnya ilegal," katanya dalam konferensi pers setelah pengumuman.

Tidak ada pernyataan langsung dari Amerika Serikat yang mengakui Ghani sebagai pemenang pemilu.

Presiden Afganistan, Ashraf Ghani. Reuters

Di Washington, seorang diplomat senior AS mengatakan bahwa Perwakilan Khusus AS Zalmay Khalilzad, yang telah memimpin pembicaraan dengan Taliban mengenai perjanjian penarikan pasukan AS, "secara kebetulan" tiba di Kabul dan berbicara dengan para pemimpin politik Afganistan.

Molly Phee, yang merupakan wakil Khalilzad, mengatakan pada sebuah acara di lembaga think tang U.S. Institute of Peace, bahwa perselisihan Ghani-Abdullah kemungkinan dapat menambah banyak tantangan yang dihadapi Afganistan, termasuk tantangan yang terkait dengan proses perdamaian.

IEC mengumumkan hasil awal pada bulan Desember di mana Ghani, mantan pejabat Bank Dunia, memenangkan pemilihan ulang dengan selisih tipis. Abdullah Abdullah menolak hasil itu sebagai penipuan dan meminta peninjauan penuh. Ghani menolak tuduhan itu.

Pemilu tahun ini mirip pemilu Afganistan 2014, ketika Ghani dan Abdullah Abdullah menuduh penipuan besar-besaran oleh pihak lain, memaksa Amerika Serikat untuk menengahi pengaturan pembagian kekuasaan yang menjadikan Ghani sebagai presiden dan Abdullah Abdullah sebagai kepala eksekutif.

Berita kemenangan Ghani datang tepat setelah AS mengumumkan rencana untuk mengurangi kekerasan di Afganistan. Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan pada Kamis bahwa AS dan Taliban Afganistan telah menegosiasikan proposal untuk pengurangan tujuh hari dalam kekerasan. Pada hari Sabtu, Esper mengatakan AS belum sepenuhnya menentukan tanggal kapan periode implementasi perdamaian Afganistan akan dimulai.






Ini Alasan Megawati Sebut Istilah Koalisi Partai Rancu

14 hari lalu

Ini Alasan Megawati Sebut Istilah Koalisi Partai Rancu

Menurut Megawati, sistem politik yang dipakai di Indonesia tidak memungkinkan membuat adanya koalisi parpol.


Albania Putus Hubungan Diplomatik dengan Iran, Ada Apa?

22 hari lalu

Albania Putus Hubungan Diplomatik dengan Iran, Ada Apa?

Hubungan kedua negara tegang sejak 2014, ketika Albania menerima sekitar 3.000 anggota kelompok oposisi Iran yang diasingkan


KPU Tetapkan William Ruto Jadi Presiden Kenya, Ditolak Oposisi

45 hari lalu

KPU Tetapkan William Ruto Jadi Presiden Kenya, Ditolak Oposisi

Massa menolak penetapan William Ruto sebagai Presiden Kenya.


Didesak Mundur, Wakil PM Thailand: Prayuth Chan-ocha Akan Berkuasa Hingga 2 Tahun Lagi

52 hari lalu

Didesak Mundur, Wakil PM Thailand: Prayuth Chan-ocha Akan Berkuasa Hingga 2 Tahun Lagi

Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha dilaporkan akan berkuasa hingga dua tahun lagi


Pemimpin Al Qaeda Ayman al-Zawahiri Tewas, Begini Keberadaan Organisasi Bentukan Osama Bin Laden

58 hari lalu

Pemimpin Al Qaeda Ayman al-Zawahiri Tewas, Begini Keberadaan Organisasi Bentukan Osama Bin Laden

Pemimpin tertinggi Al Qaeda Ayman al-Zawahiri tewas dalam serangan pesawat tak berawal CIA di Kabul, Afganistan. Bagaimana berdirinya organisasi ini?


Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa Bukan Satu-satunya Presiden yang Pernah Kabur

16 Juli 2022

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa Bukan Satu-satunya Presiden yang Pernah Kabur

Selain Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa, beberapa presiden berikut juga pernah melarikan diri dari negaranya sendiri karena berbagai situasi.


Kenali Varian Bakso di Berbagai Negara, dari Afganistan sampai Belanda

30 Juni 2022

Kenali Varian Bakso di Berbagai Negara, dari Afganistan sampai Belanda

Tahukah Anda ternyata bakso tersebar di penjuru dunia dengan nama dan varian yang berbeda? Di Spanyol disebut albondigas, di India menjadi kofta.


Mantan Perdana Menteri Tunisia Hamadi Jebali Ditahan Polisi

24 Juni 2022

Mantan Perdana Menteri Tunisia Hamadi Jebali Ditahan Polisi

Polisi Tunisia menangkap Mantan Perdana Menteri Hamadi Jebali atas dugaan tindak pencucian uang, namun oposisi memberikan perhatian pada catatan hak asasi manusia sejak Presiden Kais Saied merebut kekuasaan eksekutif tahun lalu.


Korban Gempa Afganistan Hampir Seribu Jiwa

22 Juni 2022

Korban Gempa Afganistan Hampir Seribu Jiwa

Gempa Afganistan Tewaskan Sekitar 280 Orang


PBB Minta Warga Suriah di Daerah Oposisi Tetap Dapat Bantuan

21 Juni 2022

PBB Minta Warga Suriah di Daerah Oposisi Tetap Dapat Bantuan

Sekjen PBB mengimbau Dewan Keamanan agar memperpanjang persetujuan pengiriman bantuan dari Turki ke jutaan orang yang membutuhkan di Suriah.