Kombatan Taliban Tunggu Perintah Gencatan Senjata dengan AS

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat komersial misterius jatuh dan terbakar, menewaskan 15 orang di wilayah Taliban, Afganistan. [MIRROR]

    Pesawat komersial misterius jatuh dan terbakar, menewaskan 15 orang di wilayah Taliban, Afganistan. [MIRROR]

    TEMPO.CO, Jakarta - Kesepakatan damai antara Amerika dan Taliban belum menunjukkan hasil. Sejak Ahad malam, pasukan Taliban terus menyerang militer Afghanistan. Menurut komandan pasukan tersebut, belum ada perintah untuk menghentikan serangan meski sudah ada kesepakatan baru.

    "Pimpinan kamu belum memberikan perintah apapun terkait gencatan senjata," ujar salah seorang komandan Taliban di Helmand, salah satu titik perang terpanas di Afghanistan, sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 17 Februari 2020.

    Pernyataan senada disampaikan komandan Taliban yang berada di Paktika dan Nangarhar, dua basis kekuatan Taliban. Mereka menyatakan serangan ke Afghanistan akan berlanjut sampai ada perintah untuk berhenti.

    Hingga berita ini ditulis, Taliban mengklaim sudah membunuh 19 orang tentara Afghanistan termasuk menembak jatuh satu helikopter. Sementara itu, pihak Afghanistan menyebut hanya ada lima tentara yang tewas dan helikopter mereka tidak jatuh melainkan mendarat darurat.

    Pekan lalu, Amerika dan Taliban telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata setelah sekian lama berperang. Walau begitu, gencatan senjata yang mereka setujui adalah gencatan senjata sementara. Lama durasinya, tujuh hari atau 3 hari lebih pendek dari penawaran awal.

    Adapun gencatan senjata tersebut disepakati untuk memudahkan kedua pihak membahas pembagian kawasan di Afghanistan. Harapan Amerika, dengan adanya gencatan, maka pembahasan dengan Taliban bisa berjalan lancar.

    Ketika kesepakatan gencatan senjata diambil, Menteri Pertahanan Amerika Mark Esper memang mengatakan bahwa gencatan tidak akan berlangsung sesegera mungkin. Ia berkata, berbagai mekanisme akan dibahas dulu, termasuk perihal penarikan pasukan. Meski begitu, ia mengklaim bahwa pengurangan aktivitas bersenjata dimulai per Jumat pekan lalu.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.