Kanada Bisa Untung Jika Pangeran Harry dan Meghan Markle Menetap

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Setelah mundur, Meghan Markle dan Pangeran Harry bersama keluarganya akan membagi waktu mereka antara Inggris dan Amerika Utara, sambil terus menghormati tugas mereka kepada Ratu, Persemakmuran, dan patreon mereka. Mereka juga akan mengelola badan amal yang bernama Sussex Royal. Daniel Leal-Olivas/Pool via REUTERS

    Setelah mundur, Meghan Markle dan Pangeran Harry bersama keluarganya akan membagi waktu mereka antara Inggris dan Amerika Utara, sambil terus menghormati tugas mereka kepada Ratu, Persemakmuran, dan patreon mereka. Mereka juga akan mengelola badan amal yang bernama Sussex Royal. Daniel Leal-Olivas/Pool via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Keputusan Pangeran Harry dan Meghan Markle untuk mundur dari tugas kerajaan dan pindah ke Kanada diharapkan akan meningkatkan nama Kanada dan menguntungkan pariwisata.

    Diperkirakan kerajaan Inggris secara keseluruhan menyumbang 1,77 miliar poundsterling atau setara dengan Rp 31 miliar untuk ekonomi Inggris setiap tahun, menurut laporan tahun 2017 oleh firma penilaian merek yang berbasis di London Brand Finance, dikutip dari Reuters, 17 Januari 2020.

    Keuntungan itu berasal dari aset tak berwujud dari segala yang berbau kerajaan, mulai dari pariwisata seperti Istana Buckingham dan peran anggota kerajaan pada diplomasi perdagangan.

    Pekan lalu, Pangeran Harry, 35 tahun, dan Meghan Markle, 38 tahun, mengatakan mereka akan mengurangi tugas kerajaan mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu di Amerika Utara dan mandiri secara finansial. Hal tersebut memicu krisis di kerajaan Inggris dan manimbulkan pertanyaan tentang apa dampaknya bagi Kanada.

    Setiap potensi peningkatan ekonomi akan tergantung pada bagaimana imigran terbaru Kanada tersebut berhubungan dengan rumah baru mereka, kata Charlie Scarlett-Smith, direktur pemasaran dengan Brand Finance di Montreal.

    "Jika mereka mulai sangat menghargai merek Kanada dan menghargai identitas Kanada, maka kita akan melihat aspek-aspek bagian ekonomi kita pariwisata, dan lainnya mulai meningkat juga," katanya.

    (dari kiri) Meghan Markle dan Pangeren Harry saat mengunjungi Kedutaan Besar Kanada di London. Instagram/@sussexroyal

    Tetapi setiap dampak yang lebih luas kemungkinan akan diabaikan, terutama mengingat pasangan itu tampaknya ingin keluar dari pusat perhatian, kata Doug Porter, kepala ekonom untuk BMO Capital Marets.

    "Fakta bahwa bagian dari apa yang memotivasi ini adalah untuk menjauh dari pandangan publik menunjukkan bahwa kita tidak dapat mengharapkan dorongan besar dalam perdagangan atau pariwisata atau hal semacam itu. Saya tidak berharap itu akan benar-benar menggerakkan jarum pada perekonomian Kanada," Katanya.

    Pasangan yang mengumumkan keputusan untuk mundur tak lama setelah menghabiskan liburan Natal mereka di provinsi British Columbia, Kanada memiliki gelar Sussex Royal.

    Keluarga kerajaan Inggris umumnya tetap populer di Kanada yang merupakan bekas jajahan Inggris yang mempertahankan Ratu Elizabeth sebagai kepala negara resminya.

    Sebuah jajak pendapat oleh jajak pendapat Angus Reid menemukan 69% dari 1.154 warga Kanada yang disurvei memilih Pangeran Harry, meskipun 45% responden mengatakan Kanada tidak boleh dilanjutkan sebagai monarki konstitusional.

    Destination BC, biro pariwisata resmi British Columbia, memperkirakan bahwa ketika Pangeran William dan istrinya Kate berkunjung pada tahun 2016, cetakan dan liputan online dari perjalanan itu diterjemahkan ke dalam setara dengan sejumlah iklan senilai CAN$ 2 juta atau Rp 21 miliar di Inggris saja.

    "Ketika Pangeran Harry dan Meghan Markle mulai melakukan acara-acara publik, dan mengkonfirmasi rencana mereka untuk tinggal di Kanada, saya yakin kita akan melihat lebih banyak lonjakan minat yang tentunya dapat menyebabkan kunjungan karena BC mendapat perhatian lebih," kata Clare Mason, juru bicara untuk Destination BC.

    GALUH KURNIA RAMADHANI | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.