Trump Ganti Rencana Lokasi KTT G7, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Donald Trump.[REUTERS]

    Donald Trump.[REUTERS]

    TEMPO.COWashington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan pertemuan puncak negara-negara G7 tidak akan berlangsung di salah satu resor golf miliknya di Florida.

    Dia membatalkan keputusannya itu karena merebaknya tuduhan korupsi kepada Trump terkait rencananya itu.

    “Berdasarkan sikap permusuhan media dan Partai Demokrat, kami tidak lagi mempertimbangkan Trump National Doral, Miami, sebagai lokasi untuk pertemuan puncak G7 pada 2020,” kata Trump lewat cuitan pada Ahad, 19 Oktober 2019.

    Trump mengatakan akan mencari lokasi baru sebagai lokasi pertemuan puncak, yang mayoritas agendanya merupakan isu ekonomi global.

    Pelaksana tugas Kepala Staf Gedung Putih, Mick Mulvaney, sempat mengumumkan bahwa lokasi di Florida selatan itu sebagai tempat terbaik diantara belasan lokasi di AS sebagai tempat 10 – 12 Juni 2019.

    Partai Demokrat menggagas legislasi untuk memblokir rencana Trump menggunakan resor miliknya sebagai lokasi tempat pertemuan G7 pada Jumat, 18 Oktober 2019.

    Ini menambah tekanan kepada Presiden Trump, yang sedang mengahadapi penyelidikan untuk pemakzulan.

    Proses pemakzulan ini terkait permintaan Trump kepada Presiden Ukraina untuk menginvestigasi bekas Wakil Presiden Joe Biden, yang merupakan tokoh Demokrat, dan putranya Hunter Biden terkait bisnis gas di Ukraina.

    RUU itu bernama “Trump’s Heist Undermines the G-7 (THUG) Act’. Poin dalam RUU ini adalah memotong semua dana federal terkait rencana penyelenggaraan KTT G7 di Trump National Doral.

     Lokasi ini berperan vital terhadap keuangan Organisasi Trump dan pernah menjadi mesin penghasil uang terbesar. Namun, Trump National Doral mengalami kemunduran belakangan ini seperti dilansir WaPo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.