Kekhawatiran Gelombang Arab Spring II, Irak dan Mesir Memanas

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang demonstran memegang bendera Irak sebagai protes atas pengangguran, korupsi dan layanan publik yang buruk, di Baghdad, Irak 2 Oktober 2019. REUTERS/Khalid al-Mousily

    Seorang demonstran memegang bendera Irak sebagai protes atas pengangguran, korupsi dan layanan publik yang buruk, di Baghdad, Irak 2 Oktober 2019. REUTERS/Khalid al-Mousily

    TEMPO.CO, Jakarta - Gelombang unjuk rasa di Kairo, Mesir dan ketegangan di Irak yang terjadi hampir bersamaan telah menimbulkan kekhawatiran akan gelombang Arab Spring II.  

    Di Mesir, masyarakat anti-pemerintah menuntut Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi agar mengundurkan diri setelah muncul tudingan korupsi. Sedangkan di Irak, masyarakat menuntut agar pemerintah melakukan reformasi ekonomi untuk mengatasi kemiskinan yang berkembang saat ini. 

    Di Irak, gelombang unjuk rasa telah berlangsung selama delapan hari. Masyarakat Irak yang turun ke jalan meneriakkan agar politikus yang melakukan tindak korupsi angkat kaki.   

    Aksi protes ini telah menyebabkan 110 orang tewas dan enam ribu orang luka-luka saat terjadi bentrok dengan pasukan keamanan, khususnya protes di kota Baghdad. Pada Selasa, 8 Oktober 2019, Irak akhirnya menerbitkan paket kedua reformasi sosial.  

    Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi akhirnya mengeluarkan 13 poin rencana yang akan menggelontorkan subsidi dan menyediakan perumahan untuk kaum miskin serta inisiatif berupa pelatihan dan pendidikan yang ditujukan untuk kaum muda yang mengganggur.

    Perdana Menteri Mahdi mengunggah agenda reformasinya di media sosial, meskipun sebagian besar masyarakat Irak tak bisa menikmati internet dan media sosial dalam beberapa hari.

    Ketika para politikus mencari cara untuk mengakhiri pemberontakan, gelombang unjuk rasa kembali terjadi pada Senin malam, 7 Oktober 2019 di distrik Sadr City, Baghdad. Aksi itu menewaskan satu dari pasukan keamanan.

    Melansir Reuters, sumber di kepolisian mengatakan pasukan keamanan Irak pada Selasa malam mulai melakukan penangkapan terhadap para demonstran di bagian timur dan barat laut Baghdad. Untuk memudahkan identifikasi dan penangkapan polisi membawa foto-foto terbaru dari para pengunjuk rasa. 

    Komisi tinggi semi-resmi Irak untuk HAM mengatakan sekitar 500 orang telah dibebaskan dari total 800 orang yang telah ditahan minggu lalu.

    Sekelompok orang melakukan aksi unjuk rasa menuntut agar Presiden Sisi mengundurkan diri. Sumber: Amr Abdallah Dalsh/Reuters/aljazeera.com

    Ketegangan serupa juga terjadi di Mesir dimana masyarakat Mesir secara serentak turun ke jalanan. Mereka meluapkan kemarahan setelah muncul dugaan, bukan hanya Presiden Mesir el-Sisi, namun juga lingkaran dalamnya melakukan korupsi. Tindak kejahatan korupsi dilakukan di tengah kesulitan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Mesir.

    Pengunjuk rasa di Mesir ditangkapi oleh aparat berwenang. Total lebih dari tiga ribu demonstran ditangkap sejak meletusnya unjuk rasa pertama pada 20 September 2019. Beberapa demonstran mengaku ponsel mereka disita, bahkan dipaksa menghapus media sosial mereka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.