Mengintip Keunikan Telepon Seluler di Korea Utara

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyambut Presiden Cina Xi Jinping yang tiba di Bandara Internasional Pyongyang, Korea Utara, 21 Juni 2019. Lawatan Xi Jinping ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh pemimpin Cina ke Korea Utara dalam 14 tahun terakhir, dan merupakan yang pertama kali juga dilakukan oleh Xi sejak ia berkuasa tahun 2012. KCNA via REUTERS

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyambut Presiden Cina Xi Jinping yang tiba di Bandara Internasional Pyongyang, Korea Utara, 21 Juni 2019. Lawatan Xi Jinping ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh pemimpin Cina ke Korea Utara dalam 14 tahun terakhir, dan merupakan yang pertama kali juga dilakukan oleh Xi sejak ia berkuasa tahun 2012. KCNA via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Para ahli ekonomi memperkirakan sekitar 6 juta warga Korea Utara, atau seperempat dari jumlah populasi warga, kini memiliki telepon seluler.

    Warga Korea Utara menganggap telepon seluler sudah menjadi kebutuhan dan juga sebagai simbol kemakmuran. Di masa Korea Utara dipimpin ayah Kim Jong Un, Kim Jong Il, sulit menemukan warga Korea Utara memiliki telepon seluler.

    Sementara PBB belum mencabut sanksi ekonomi terhadap Korea Utara yang dikeluarkan pada tahun 2017 karena program senjata nuklir Korea Utara yang mengancam keselamatan dunia.

    Berdasarkan laporan Reuters, telepon seluler di Korea Utara merupakan hasil rakitan perangkat lunak maupun perangkat keras dengan harga murah dari Taiwan (Mediatek's), Cina (Huawei, dan Jepang (Toshiba).

    Meurut pengamat telepon Korea Utara mengungkapkan, fitur semikonduktor telepon genggam buatan Taiwan, bateri buatan Cina dan sistem pengoperasian telepon genggam menggunakan open-source Android milik Google.

    Mediatek's tidak menanggapi permohonan wawancara Reuters.

    Harga telepon seluler di Korea Utara berkisar US4 100 hingga US$ 400 yang di jual di pasar yang dikendalikan perusahaan swasta maupun negara.

    Setiap pembelian telepon seluler, pembeli mendapat sejumlah service termasuk 200 menit bertelepon. Biaya bertelepon dari kartu pra bayar senilai US$ 13 untuk 100 menit lamanya.

    Bandingkan dengan penghasilan rata-rata warga Korea Utara per bulan senilai U$ 100, atau hanya 4 persen dari rata-rata gaji tenaga kerja di Korea Selatan.

    Hal menarik, telepon seluler hanya dapat digunakan untuk pemanggilan dan penerimaan telepon di dalam negeri. Selain itu, ada fitur unik tentang keamanannya.

    Korea Utara melarang mengunggah, menggunduh maupun mentransfer dokumen melalui telepon seluler.

    Reuters menceritakan pengalamannya saat berusaha meng-install program tak dikenal di telepon seluler Pyongyang 2418, muncul peringatan pop-up: "Jika anda meng-instal program ilegal, telepon anda tidak dapat berfungis atau data akan dihancurkan."

    Lee Young-hwan, warga Korea Selatan yang ahli perangkat lunak telepon seluler Korea Utara mengatakan, Korea Utara membuat algoritma dan perangkat lunak di telepon genggam yang bertujuan membuat data tidak dapat disalin atau ditransfer.

    Selain itu, Korea Utara saat ini mengembangkan peralatan pemantau untuk dipasang di telepon seluler yang akan digunakan oleh mengakses secara ilegal atau digunakan oleh media non pemerintah yang tidak terdaftar.

    Android dengan versi yang dimodifikasi juga akan mampu memantau dan menjejaki pengguna.

    Aplikasi yang terdapat dalam telepon seluler seperti peta, permainan, dan kamus bahasa Inggris dikembangkan oleh para teknisi Kore Utara yang bekerja di perusahaan pemerintah atau universitas yang diselenggarakan pemerintah Korea Utara.

    Meski penggunaan telepon seluler di Korea Utara tidak sebesar di luar negeri, namun penggunaannya bagi warga Korea Utara telah meningkatkan kualitas hidup mereka misalnya dalam aktivitas pasar.

    Dan bagi pemerintah Korea Utara, pembayaran pulsa tagihan telepon seluler warganya telah memperbesar pendapatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.