Mengaku Diserang Otoritas Thailand, Siapa Pavin Chachavalpongpun

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pavin Chachavalpongpun, 48 tahun, warga Thailand yang mengaku diserang otoritas Thailand karena sering mengkritik Kerajaan. Sumber: Asia Sentinel

    Pavin Chachavalpongpun, 48 tahun, warga Thailand yang mengaku diserang otoritas Thailand karena sering mengkritik Kerajaan. Sumber: Asia Sentinel

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosok Pavin Chachavalpongpun, 48 tahun, eksil dari Thailand yang berlindung ke Jepang mendadak menjadi perhatian publik setelah mengaku pada 8 Juli 2019 mengalami penyerangan oleh laki-laki tak dikenal yang menerobos masuk rumahnya di Kyoto pukul 4 pagi. Laki-laki itu menyemprotkan cairan pada Pavin dan pasangannya sedang tidur hingga membuat tubuh mereka panas terbakar.

    Pavin sangat yakin otoritas Thailand adalah dalang penyerangan tersebut. Namun Panglima Militer Thailand, Apirat Kongsompong, menyebutnya sebagai tuduhan yang konyol.

    Pavin Chachavalpongpun, 48 tahun, warga Thailand yang mengaku diserang otoritas Thailand karena sering mengkritik Kerajaan. Sumber: aparc.fsi.stanford.edu

    Dikutip dari southeastasianstudies.uni-freiburg.de, Minggu, 4 Agustus 2019, di negara pelariannya, Jepang, Pavin bekerja sebagai asisten profesor di Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Kyoto. Di lembaga pendidikan itu, Pavin mengajar politik Asia Tenggara dan hubungan internasional di Asia.

    Pavin telah menulis sejumlah buku tentang pemerintah Thailand. Pada 2011, dia memimpin kampanye nasional untuk meneriakkan pembebasan seorang tahanan politik bernama Akong yang dituduh telah melakukan penghinaan pada Raja Thailand. Dia divonis 20 tahun penjara dan meninggal karena sakit kanker saat masih dalam penjara.

    Pavin bisa disebut salah satu cendikiawan dan penulis berpengaruh di Thailand. Dia sudah lima tahun mengasingkan diri ke Japang setelah pemerintahan Junta (militer) tak suka pada kritik-kritik yang dilancarkannya dan mengkritik Kerajaan Thailand yang kembali berkuasa.

    Sebelum ke Jepang, Pavin mengasingkan diri ke Singapura dan bekerja di sebuah universitas di sana. Akan tetapi, pemerintah Junta lalu mengidentifikasinya sebagai musuh tak lama setelah terjadi kudeta militer di Thailand pada 2014 dan surat penahanan terhadapnya diterbitkan.

    Otoritas mencabut pasportnya dan memaksanya untuk mengajukan suaka sebagai pengungsi. Keluarga Pavin di ibu kota Bangkok juga sudah ditahan. Namun rentetan tekanan itu tak membuatnya surut untuk terus mengkritik Kerajaan Thailand.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.