70 Eks Petinggi Militer - Sipil Amerika Tolak Perang dengan Iran

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani. AP Photo/Evan Vucci, Iranian Presidency Office via AP

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani. AP Photo/Evan Vucci, Iranian Presidency Office via AP

    TEMPO.COWashington – Lebih 70 orang bekas pejabat tinggi militer dan sipil Amerika Serikat menulis surat terbuka menolak perang dengan Iran kepada Presiden, Donald Trump.

    Baca juga: Warga Minta Irak Tak Campuri Perselisihan Iran - Amerika

    Surat terbuka ini, yang pertama kali dirilis oleh situs War on the Rocks, dikoordinasikan oleh American College of National Security Leaders.

    Mereka mengkritik kebijakan Trump mengirim pasukan dan senjata ke kawasan Timur Tengah. Para mantan petinggi ini mengatakan tindakan itu malah bisa menimbulkan konfrontasi mematikan bagi kedua pihak baik sengaja atau tidak.

    Baca juga: Iran Tawarkan Perjanjian Non Agresi dengan Negara Teluk

     

    “Perang dengan Iran baik karena pilihan ataupun salah kalkulasi bakal menghasilkan reperkusi dramatis, yang saat ini mulai mendestabilisasi Timur Tengah,” begitu salah satu poin dari surat terbuka ini, yang dilansir oleh Thinkprogress.com pada Sabtu, 25 Mei 2019.

    Baca juga: Inggris Minta Iran Tidak Remehkan Tekad Amerika

    Para bekas jenderal dan duta besar ini melanjutkan,”Ini bisa menyeret AS ke dalam konflik bersenjata dengan menimbulkan biaya yang sangat besar secara keuangan, jiwa manusia, dan geopolitik.”

    Mereka beralasan upaya perlindungan kepentingan AS di Timur Tengah, keamanan negara sahabat dan sekutu membutuhkan sikap kenegarawanan dan diplomasi agresif dan bukan konflik bersenjata yang tidak perlu.

    “Langkah deeskalasi krisi harus dilakukan dengan pemimpin Iran pada level senior pemerintahan,” begitu kata mereka dalam surat itu.

    Seperti dilansir Reuters, ketegangan AS dan Iran meningkat dalam dua bulan terakhir. Ini diawali dengan keputusan Trump menyatakan AS keluar dari Perjanjian Nuklir Iran pada 2018 dan mengenakan sanksi ekonomi.

    Baca juga: Menlu Inggris dan Jerman Khawatir Konflik Amerika dan Iran

    AS juga menyatakan Korps Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris. Ini membuat Iran retaliasi dan menyebut pasukan AS di Timur Tengah sebagai bagian dari organisasi teroris.

    AS juga mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln dan pesawat tempur B-52 ke kawasan Teluk. Ini diikuti pengiriman 1.500 pasukan tambahan untuk menjaga keamanan kepentingan AS di kawasan ini.

    AS juga melakukan penjualan senjata US$8 miliar atau sekitar Rp115 triliun kepada pemerintah Arab Saudi, yang merupakan musuh Iran di kawasan ini.

    Baca juga: Komandan Garda Revolusi Iran Enggan Perang Lawan Amerika

    Meski begitu, pemerintah AS dan Iran telah menyatakan mereka tidak menginginkan perang meskipun bersiap jika kepentingan masing-masing negara terganggu.

    Berikut nama sebagaian para penandatangan surat terbuka ini, yang semuanya telah pensiun:

    Laksamana. Sandy Adams (angkatan laut)
    Brigadir Jenderal Clara Adams-Ender (angkatan darat)
    Brigadir Jenderal Ricardo Aponte (angkatan udara)

    Wakil Laksamana Donald Arthur (angkatan laut)
    Mayor Jenderal Donna Barbisch (angkatan darat)­
    Brigadir Jenderal Roosevelt Barfield (angkatan darat)
    Brigadir Jenderal Donald C. Bulduc (angkatan darat)
    Brigadir Jenderal Stephen A. Cheney, U.S. (Korps Marinir)
    Brigadir Jenderal Julia Cleckley (angkatan darat)
    Duta besar Herman J. Cohen


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.