Angka Kelahiran Finlandia Anjlok, Menteri Keuangan Khawatir

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Finlandia membangun kota bawah tanah. Foto: City of Helsinki

    Finlandia membangun kota bawah tanah. Foto: City of Helsinki

    TEMPO.CO, Helsinki – Menteri Keuangan Finlandia, Petteri Orpo, mengatakan negaranya mengalami penurunan drastis angka kelahiran. Dan ini mengancam sistem negara kesejahteraan dan keuangan publik negara itu.

    Baca:

     

    Menurut data dari Statistics Finland, tingkat kelahiran bayi turun menjadi ke level yang terendah atau menjadi 1.43 pada 2018 dari 1.87 pada 2010.

    “Ini menimbulkan keprihatinan mengenai kelangsungan dari sistem negara kesejahteraan kami,” kata Orpo kepada Reuters seperti dilansir Channel News Asia pada Kamis, 29 November 2018.

    Orpo mengatakan ini terkait dengan menurunnya jumlah pembayar pajak di masa depan, yang bakal menanggung biaya hidup bagi generasi manusia usia lanjut di negara itu. Sebagai pembanding, angka kelahiran untuk kawasan Uni Eropa sekitar 1.6 bayi per perempuan pada 2016.

    Baca:

     

    Jumlah warga Finlandia yang bekerja pada 2050 bakal berkurang sebanyak 200 ribu orang dari populasi saat ini sekitar 5.5 juta. Sepertiga warga Finlandia bakal berusia di atas 65 tahun pada 2070.

    Dua pengunjung menggelar peralatan tidurnya di bawah rak penyimpanan sayuran di K-Supermarket di Helsinki saat gelombang panas melanda Finlandia pada 4 Agustus 2018. Ide menginap di supermarket datang dari para pelanggan yang bergurau andai saja bisa menginap di supermarket yang sejuk di tengah gelombang panas agar dapat tidur nyenyak. Foto: Jussi Helttunen

    “Ini menunjukkan orang yang bekerja bakal menanggung beban yang lebih besar dari orang yang tidak bekerja,” kata Orpo.

    Baca:

     

    Menurut PBB pada awal 2017, Finlandia tercatat sebagai negara paling bahagia di Planet Bumi.

    Menurut Orpo, masyarakat di negara maju cenderung menahan kelahiran bayi karena mempertimbangkan faktor ekonomi.

    “Ini menarik karena Finlandia mendapat peringkat sebagai salah satu negara paling bahagia dan setara sehingga seharusnya masalah ini tidak menjadi masalah,” kata Orpo.

    Menurut dia, kehidupan pekerjaan di Finlandia ikut berubah menjadi kurang aman dan kurang pasti mengenai masa depan. Ini karena sebagian dari mereka hidup dengan kontrak kerja temporer.

    Baca:

     

    Finlandia sempat mengalami stagnasi ekonomi pada saat krisis moneter global dengan perusahaan Nokia kemunduran dalam bisnis. Selain itu, Rusia sebagai negara tetangga juga mengalami kemunduran sehingga berdampak ke Finlandia.

    Seperti dilansir Telegraph, Finlandia menempati posisi pertama negara paling bahagia, yang dirilis pada Oktober 2018, dari sebelumnya peringkat lima pada 2017. Finlandia menggeser posisi Norwegia, yang setahun sebelumnya menjadi jawara.

    Menurut Legatum Institute’s Prosperity Index, Finlandia memiliki kualitas hidup yang paling tinggi. Ada sektiar 300 ribu imigran dari negara Eropa, Afghanistan, Cina, Irak dan Somalia. Penduduk lokal dan imigran, menurut penilaian institut, memiliki kehidupan yang memuaskan. Finlandia dinilai nyaman karena memiliki banyak hutan, yang menyumbang banyak oksigen gratis bagi warganya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.