Selasa, 23 Oktober 2018

Badai Tropis Shanshan Menjauh, 160 Penerbangan di Jepang Ditunda

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejalan kaki menggunakan payung untuk berlindung dari hujan lebat dan angin saat Topan Shanshan mendekati daratan Jepang di Tokyo, Jepang 8 Agustus 2018.[REUTERS / Toru Hanai]

    Pejalan kaki menggunakan payung untuk berlindung dari hujan lebat dan angin saat Topan Shanshan mendekati daratan Jepang di Tokyo, Jepang 8 Agustus 2018.[REUTERS / Toru Hanai]

    TEMPO.CO, Jakarta - Badai tropis lepas pantai Shanshan yang membawa hujan dan angin kencang ke pantai timur laut Jepang pada Kamis 9 Agustus 2018. Namun tidak ada kerusakan besar dilaporkan karena badai tidak mencapai daratan Jepang.

    Dilaporkan Associated Press, 9 Agustus 2018, badai tropis Shanshan melemah pada tengah hari, dengan kecepatan angin maksimum 108 kilometer per jam dan hembusan hingga 162 kilometer per jam, seperti yang dicatat oleh Badan Meteorologi Jepang.

    Baca: Per Juli, 300 Warga Jepang Meninggal Akibat Banjir dan Panas

    Maskapai penerbangan membatalkan puluhan penerbangan menuju dan dari Tokyo serta daerah lain yang terkena dampak selama dua hari berturut-turut. Beberapa layanan kereta juga dihentikan atau dikurangi, dan ada laporan tentang pemadaman listrik yang dilakukan di beberapa wilayah.

    Meskipun tidak ada korban jiwa, media Jepang mengatakan sedikitnya lima orang terluka, termasuk dua yang jatuh dan patah tulang.

    Seorang pria berjalan saat angin dan hujan dari Topan Shanshan mendekat ke Iwaki, Prefektur Fukushima, Jepang utara Kamis, 9 Agustus 2018. [Kyodo News via AP]

    Badai tropis Shanshan tetap di lepas pantai, yang hampir menyebabkan Jepang dilanda hujan dan badai angin terburuk. Badai tropis dilacak mengarah ke utara di sepanjang pantai Pasifik dan diperkirakan membelok ke timur dan keluar ke laut.

    Dilansir dari Reutes, Shanshan, yang diambil dari nama seorang gadis Tionghoa, terletak 200 kilometer tenggara Tokyo pada pukul 9 malam. , dan bergerak ke utara di sepanjang pantai timur pulau utama Jepang pada Kamis 9 Agustus.

    Badan Meteorologi Jepang memperingatkan bahwa Tokyo dan sekitarnya bisa dilanda hujan 300 milimeter dalam 24 jam hingga pukul 6 sore. Pada Kamis 9 Agustus, angin berhembus dengan kecepatan 180 kilometer/jam.

    Kota Mobara, yang terletak di timur Tokyo, mengeluarkan saran evakuasi untuk seluruh penduduk berpopulasi 90.000 orang.

    Baca: Masyarakat Korea Selatan dan Jepang Bersimpati Atas Gempa Lombok

    Beberapa kota lain di dekat Tokyo juga mengeluarkan saran evakuasi untuk beberapa warga, sehingga jumlah orang yang terkena dampaknya menjadi lebih dari 100.000 jiwa. NHK melaporkan perusahaan penerbangan telah membatalkan lebih dari 160 penerbangan.

    Wilayah barat Jepang yang terkena banjir mematikan pada bulan Juli tampaknya akan terhindar dari kerusakan akibat badai tropis saat angin bertiup ke pantai timur laut.

    Jepang telah mengalami satu bencana cuaca setelah bencana lainnya sejak awal Juli, termasuk gelombang panas yang memecahkan rekor tertinggi dengan suhu 41,1 derajat celsius dan telah menewaskan sedikitnya 132 orang pada 5 Agustus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.