Trump Dukung Klaim Inggris Soal Racun Eks Intel Rusia

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump bertepuk tangan di depan Wakil Presiden AS Mike Pence (kiri) dan Ketua DPR AS Rep Paul Ryan di Capitol Hill di Washington, AS, 30 Januari 2018. REUTERS

    Presiden AS Donald Trump bertepuk tangan di depan Wakil Presiden AS Mike Pence (kiri) dan Ketua DPR AS Rep Paul Ryan di Capitol Hill di Washington, AS, 30 Januari 2018. REUTERS

    TEMPO.CO, Washington - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendukung temuan Inggris yang mengklaim Rusia kemungkinan besar bertanggung jawab atas serangan racun yang menyebabkan mantan agen ganda Rusia dan putrinya mengalami koma di bangku taman di sebuah mal di Inggris pada pekan lalu.

    "Kedengarannya seperti Rusia, berdasarkan semua bukti yang penyidik Inggris miliki. Saya pasti akan menganggap temuan itu sebagai fakta," kata Trump, seperti dilansir CNN pada 13 Maret 2018.

    Baca: Agen Rahasia Rusia Diracun, Inggris Kirim Pasukan ke Salisbury

    Sergei Skripal, 66, dan putrinya, Yulia, 33 pingsan di sebuah pusat perbelanjaan di Salisbury hampir sepekan lalu setelah terpapar racun yang merusak saraf. Dia dan putrinya segera dilarikan ke rumah sakit.

    Trump juga mengatakan bahwa dia akan berbicara dengan Perdana Menteri Inggris, Theresa May, soal insiden itu.

    Baca: TV Rusia Beritakan Kasus Eks Intelijen Diracun di Inggris

    PM Inggris Theresa May dan Presiden AS Donald Trump. REUTERS

    Seperti diberitakan, saat berbicara di parlemen Inggris, House of Commons, May mengatakan tidak mengumumkan tindakan pembalasan dengan mengatakan dia akan memberi Rusia kesempatan untuk menanggapi temuan pemerintahnya ini.

    Theresa May juga mengatakan akan kembali ke parlemen pada Rabu dengan rencana untuk tindakan spesifik. Seperti dilansir Reuters, May menegaskan Rusia terlibat langsung dalam serangan melawan Inggris atau kehilangan kendali atas racun saraf yang dikembangkannya.

    Ilmuwan Inggris menyimpulkan zat kimia yang digunakan untuk meracun mantan intelijen Rusia, Sergei Skripal dan putrinya Yulia, dibuat di Rusia.

    Sejumlah ujicoba telah dilakukan para ahli dari Laboratorium Kimia Porton , Kementerian Pertahanan Inggris, pada Minggu kemarin. Peneliti menemukan tanpa keraguan racun itu digunakan dalam upaya pembunuhan pada 4 Maret lalu terhadap Skripal dan putrinya.

    Sedangkan pemerintah  Rusia telah beberapa kali membantah terlibat dalam kasus ini. Seperti dilansir Reuters, juru bicara Kremlin, kepresidenan Rusia, DmitryPeskov, mengatakan banyak pernyataan yang menuduh keterlibatan Rusia. Dia meminta obyektivitas soal. "Semua laporan ini harus sesuai kenyataan," kata Peskov.

    Manten intelijen Rusia dan Inggris, Sergei Skripal sekarat terkena zat tak dikenal di Inggris [Independent.co.uk/AP]

    Secara terpisah, beberapa sumber di pemerintah Inggris mengatakan polisi dan pejabat bidang keamanan telah mengumpulkan bukti-bukti yang cukup untuk mengkaitkan pemerintah Rusia dalam serangan pada Skripal ini.

    Racun yang digunakan untuk menyerang Skripal adalah Novichok, racun saraf yang dikembangkan Rusia pada tahun 1987 di State Union Scientific Research Institute untuk Kimia Organik dan Teknologi.

    Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, juga mendukung kesimpulan pemerintah Inggris, dengan mengatakan racun itu jelas berasal dari Rusia.

    Trump dan Tillerson bukan satu-satunya figur asing yang bisa memberi dukungan kepada Inggris. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, telah mengutuk serangan itu.  Sementara Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengatakan Inggris adalah "sekutu yang sangat berharga" dan insiden itu "menjadi perhatian besar" NATO.

    Federica Mogherini, perwakilan tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri, menggambarkan serangan itu sebagai kejutan dan mengatakan Uni Eropa berdiri "bersama Inggris dalam mengejar keadilan."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.