Attiyah: Arab Saudi dan UEA Ingin Menyerang Qatar

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putra Mahkota Mohammed bin Salman, meskipun baru berusia 32 tahun, memiliki peran dominan untuk urusan militer Saudi, kebijakan luar negeri, serta kebijakan ekonomi dan sosial. AFP/SAUDI ROYAL PALACE/BANDOUR AL-JALOUD

    Putra Mahkota Mohammed bin Salman, meskipun baru berusia 32 tahun, memiliki peran dominan untuk urusan militer Saudi, kebijakan luar negeri, serta kebijakan ekonomi dan sosial. AFP/SAUDI ROYAL PALACE/BANDOUR AL-JALOUD

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Qatar mengatakan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bermaksud akan menyerang Qatar saat awal krisis diplomatik pada Juni 2017.

    Dalam sebuah wawancara dengan Washington Post, Jumat, 2 Februari 2018, Khalid bin Mohammad Al Attiyah mengatakan, negara-negara tetangga Teluk mencoba banyak kemungkinan untuk mendistabilkan negara, namun niat mereka menyerang dimentahkan Qatar.

    Baca: Dikeroyok Arab Saudi Cs, Qatar : Kami Tak Akan Menyerah

    (dari kiri) Pemimpin negara Uni Emirat Arab, Bahrain, Egypt, Kuwait and Qatar. Ahram.org

    "Mereka berniat melakukan intervensi militer," kata Attiyah seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu, 3 Februari 2018. Ketika ditanya, apakah ancaman militer itu masih ada hingga sekarang, dia menjawab, "Kami tak hiraukan niat ini, tetapi di awal krisis mereka akan melakukannya."

    "Mereka mencoba memprovokasi pemimpin suku. Mereka menggunakan masjid untuk melawan kami. Kemudian, mereka mencoba mencari boneka guna menggantikan pemimpin kami."

    Attiyah yang bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Jim Mattis pekan lalu selama kunjungannya ke Washington DC, menguraikan, krisis ini diawali oleh ulah blok Arab Saudi yang salah perhitungan.

    Pada Juni 2017, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan menerapkan blokade darat, laut dan udara setelah mereka menuduh Qatar mendukung terorisme dan ekstrimisme. Tuduhan itu ditolak Qatar.Qatar Emir Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani. REUTERS

    Attiyah mengatakan, Qatar adalah satu-satunya negara yang telah menandatangani nota kesepahaman dengan Amerika Serikat untuk melawan terorisme di wilayah tersebut yakni di Irak, Afganistan, dan Suriah.

    Dia menekankan, Qatar ingin melakukan dialog terbuka untuk mengakhiri krisis yang sampai saat ini berlangsung. Menurut Attiyah, Arab Saudi dan sekutunya ingin mengganti Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dengan seorang pemimpin baru.

    Baca: Krisis Timur Tengah: Turki Kirim Pasukan ke Qatar

    "Mereka menempatkan boneka Sheikh Abdullah bin Ali Al Thani, kerabat mantan Emir Qatar. Tetapi mereka gagal," ucapnya. "Mereka tidak bisa melakukan apapun. Rakyat Qatar sangat mencintai pemimpinnya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.