PBB Minta Semua Pihak di Zimbabwe Tenang Hadapi Kudeta Mugabe

Reporter:
Editor:

Yon Yoseph

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Zimbabwe President Robert Mugabe, tertidur saat acara makan malam  Afrika-Prancis di Bamako, 17 Januari 2017. AFP PHOTO / SEBASTIEN RIEUSSEC

    Presiden Zimbabwe President Robert Mugabe, tertidur saat acara makan malam Afrika-Prancis di Bamako, 17 Januari 2017. AFP PHOTO / SEBASTIEN RIEUSSEC

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekertaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres meminta semua pihak di Zimbabwe tetap menjaga perdamaian dan menghormati hak-hak warga negara.

    Juru bicara PBB pada Kamis, 16 November 2017 menyatakan Guterres telah meminta semua pihak yang terlibat dalam kudeta militer di Zimbabwe agar tetap tenang, tidak menggunakan kekerasan dan menghormati konstitusi yang berlaku.

    Baca: Bukan Kudeta, Ini Tujuan Militer Kuasai Ibukota Zimbabwe

    Seperti dilansir Reuters pada 16 November 2017, pernyataan itu dikeluarkan setelah militer Zimbabwe menguasai negara miskin Afrika selatan itu. Kelompok tentara menempatkan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe. sebagai tahanan rumah. Tentara juga mengerahkan sejumlah kendaraan lapis baja ke jalan-jalan ibukota Harare.
     
     
     

    Tudingan kudeta diperkuat dengan pernyataan sekutu dekat Mugabe, Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma.

    Menurut Zuma, Mugabe, 93, presiden tertua di dunia, tidak dapat meninggalkan rumahnya. Sejumah tentara juga dilaporkan berjaga di Parlemen Zimbabwe dan istana kepresidenan, selain menguasai televisi pemerintah di Harare. Kehadiran tentara yang signifikan ada juga terlihat di bandar udara internasional. Hingga berita ini diturunkan, Mugabe belum terlihat dan memberikan pernyataan kepada publik.

    Dalam sebuah pernyataan dramatis di televisi pada Rabu pagi, juru bicara militer, Sibusiso Moyo menolak tudingan bahwa militer melakukan pengambilalihan kekuasaan pemerintah.

    Moyo mengumumkan melalui Zimbabwe Broadcasting Corp., yang dikelola negara pada Rabu, 16 November, tepat pukul 4 pagi, bahwa mereka melakukan operasi untuk menangkap "penjahat" di sekitar Mugabe, yang menyebabkan "penderitaan sosial dan ekonomi."

    Militer juga mengatakan bahwa Presiden Robert Mugabe dan keluarganya dalam kondisi aman dan selamat.

    Tapi situasi ini jelas menunjukan bahwa itu adalah sebuah kudeta militer. Tanda-tanda pertama terjadinya intervensi militer terlihat pada Selasa siang waktu setempat ketika kendaraan lapis baja memasuki kawasan dekat ibukota.

    Intervensi militer terjadi setelah kekacauan politik di mana Mugabe telah memecat Wakil Presidennya yang kuat, Emmerson Mnangagwa. Tindakan Mugabe ini memicu spekulasi bahwa dia bersiap mengangkat istrinya, Grace, sebagai penggantinya.

    Grace Mugabe, 52, sangat tidak disukai para elit di negara itu. Sementara Mnangagwa menikmati dukungan luas di militer.

    Di bawah kekuasaannya selama puluhan tahun, Mugabe telah memerintah Zimbabwe dengan tangan besi. Saat memenangkan kekuasaan setelah pemerintahan Inggris, dia bergerak cepat untuk memadamkan oposisi politik. Dia memerintahkan sebuah tindakan keras yang menyebabkan serangkaian pembantaian di kubu oposisi.

    CNN | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.