Close

Makam Yesus di Kashmir Hanya Mitos

Jum'at, 30 April 2010 | 21:52 WIB

Makam Yesus di Kashmir Hanya Mitos
Makam Yesus di Kashmir. REUTERS
TEMPO Interaktif, Jakarta - Sekretaris Komisi Hubungan Antar Agama, Konferensi Waligereja Indonesia, Romo Antonius Benny Susetyo Pr menilai makam Yesus yang diyakini berada di Kashmir, India hanyalah mitos yang sulit dibuktikan kebenarannya.

"Apakah ini hanya persoalan sensasi? Agak sulit dibuktikan secara historis," ujarnya saat dihubungi, Jumat (30/4).

Menurutnya fenomena Yesus yang selamat dalam penyaliban dan menghabiskan sisa hidupnya di India sudah sejak lama berkembang. Pemahaman ini mengacu pada injil Apokrifa yakni injil yang tidak diakui dalam kitab suci umat Kristiani karena ajarannya dianggap berbeda dengan gereja ortodoks. Gereja kristiani, lanjutnya, hanya mengakui empat buah injil yakni Injil Markus, Injil Matius, Injil Lukas dan Injil Yohanes.

"Itu hanya kisah-kisah mitos, hanya cerita dari mulut ke mulut. Hanya Injil omong kosong," tegasnya. Injil Apokrifa yang sempat menghebohkan lainnya antara lain Injil Yudas yakni tulisan kuno berisi tentang Yudas Iskariot, seorang murid yang mengkhianati Yesus.

Romo Benny menambahkan selama ini umat Kristiani meyakni makam Yesus berada di Yerusalem dan sudah dibuktikan dengan temuan bukti penggalian arkeologi. "Bukti alkitab ada di situ, juga ada penggalian sejarah," tambahnya. Meski demikian ia menegaskan, keberadaan makam tidaklah menjadi persoalan penting bagi umat Kristiani dan yang paling mendasar adalah Yesus sudah bangkit dari maut. "Itu peristiwa konsekwensi ajaran Kristiani. Yesus bangkit dan orang hidup di dunia tidak sia-sia," jelasnya.

Fenomena mitos soal kematian Yesus memang banyak berkembang, selain dugaan Yesus tidak pernah disalib juga sempat beredar temuan kain kafan yang diyaknini milik Yesus. "Bukti ilmiah benar atau tidak, kita tidak pernah tahu," kata Benny.

VENNIE MELYANI

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan