Teroris yang Pulang ke Swedia Akan Diberi Kemudahan Hidup  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas kepolisian Swedia berpatroli menjaga keamanan bandara di Stockholm, Swedia, 22 Maret 2016. Aksi teror bom di Bandara Brussels, menewaskan sekitar 31 orang dan ratusan luka-luka. REUTERS

    Sejumlah petugas kepolisian Swedia berpatroli menjaga keamanan bandara di Stockholm, Swedia, 22 Maret 2016. Aksi teror bom di Bandara Brussels, menewaskan sekitar 31 orang dan ratusan luka-luka. REUTERS

    TEMPO.COLund - Kota Lund di Swedia segera memberlakukan kebijakan untuk para ekstremis atau teroris yang kembali pulang. Proposal kebijakan yang sedang digodok Koordinator Kota Lund Anna Sjöstrand itu menyambut pulang para ekstremis atau teroris dengan memberikan sejumlah kemudahan hidup. 

    Kemudahan yang akan diterima para teroris atau ekstremis yang kembali ke Swedia antara lain memberi mereka surat izin mengemudi, memberikan pekerjaan, menghapus utang, dan memberikan tempat tinggal.

    "Mungkin jadi kritik, tapi saya pikir Anda harus memberikan bantuan seperti yang lainnya, yang membutuhkan bantuan kita. Kita tidak dapat mengatakan, karena Anda membuat pilihan salah, Anda tak berhak pulang dan tinggal di tengah masyarakat kami," kata Sjöstrand memberikan alasan atas proposal itu saat diwawancarai radio Swedish Sveriges, yang dikutip ABNA24.COM, 20 Oktober 2016. 

    Baca:
    ISIS Terpuruk di Mosul, al-Baghdadi Minta Gencatan Senjata
    Uni Eropa Ancam Sanksi Rusia atas Pengeboman di Aleppo
    Ribuan Bayi Aleppo Kekurangan Susu Formula

    Sjöstrand membuat proposal kebijakan untuk teroris atau ekstremis yang pulang ke Swedia berdasarkan laporan yang ditulis kriminolog Christoffer Carlsson. Laporan Carlsson menyebutkan sulit bagi seseorang untuk mengabaikan ekstremisme dan berkumpul kembali dengan masyarakatnya tanpa mendapat dukungan. 

    "Risikonya berat bahwa ekstremis tak sanggup meninggalkan lingkungan ekstremis tanpa dukungan, sehingga mereka boleh jadi sudah berusaha dan gagal karena mereka tidak punya pegangan apa-apa untuk keluar dan selalu ada sesuatu yang membawa mereka kembali, sebutlah nama organisasi yang telah mereka tinggalkan," ujar Carlsson.   

    Benar saja perkiraan Sjöstrand. Proposalnya menuai kritik pedas di media sosial. Sejumlah pemilik akun di media sosial mengatakan Swedia tengah melupakan korban-korban terorisme. 

    "Lunds mau membantu para teroris dengan rumah, surat izin mengemudi, dan pekerjaan, tapi melupakan para korban," tutur seorang pemilik akun Twitter. "Pemerkosa, pembunuh anak-anak, teroris. Setiap orang harus diperlakukan setara."

    Sejumlah netizen kemudian menuntut Sjöstrand mundur dari jabatannya. 

    Menurut data International Centre for Counter-Terrorism (ICCCT), sekitar 300 warga Swedia bergabung dengan ISIS. Adapun 140 teroris telah kembali ke Swedia hingga Oktober tahun ini. 

    ABNA24.COM | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.