Anak Bangsawan Inggris Tewas di Tengah Perang Narkoba  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, melakukan

    Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, melakukan "fist bump", dalam kunjungan ke kamp militer Capinpin, Tanay, Rizal, Filipina, 24 Agustus 2016. REUTERS/Erik De Castro

    TEMPO.COManila - Anak keluarga bangsawan Inggris dilaporkan tewas di tengah perkelahian pemberantasan narkoba di Filipina. Jenazah Maria Aurora Moynihan, 45 tahun, ditemukan tergeletak di jalan, di samping sebuah spanduk bertuliskan pendukung narkoba.

    Bangsawan Anthony Moynihan, ayah Maria, juga dikenal terlibat penyelundupan narkoba, penipuan, dan prostitusi. Lebih dari 3.000 orang yang disinyalir sebagai pengguna atau bandar narkoba tewas terbunuh sejak masa kepemimpinan Presiden Rodrigo Duterte.

    Kampanye perang terhadap narkoba itu sehubungan dengan janji Presiden Duterte membunuh 100 ribu penjahat, yang menolak menyerah kepada pemerintah.

    Maria baru saja keluar dari penjara setelah ditahan karena kasus penggerebekan narkoba pada 2013. Otoritas keamanan setempat menemukan bungkusan methamphetamine di sekitar jenazah Maria.

    "Saksi mata mengatakan mereka mendengar serangkaian tembakan, lalu melihat kendaraan lalu-lalang meninggalkan lokasi kejadian,” ujar Inspektur Kepala Tito Jay Cuden, seperti dilansir dari BBC News, Selasa, 20 September 2016. 

    Pihak kepolisian Filipina pun tengah menyelidiki kematian Maria. Kamera pengintai atau CCTV di lokasi kejadian sempat menangkap sebuah mobil yang berhenti, lalu membuka pintu mobilnya membelakangi jalan. 

    Maria juga dikenal sebagai saudara perempuan selebritas Filipina, Maritoni Fernandez. Ayah Maria, Anthony, menjadi target buruan agen penegak hukum, termasuk Badan Anti Narkoba Amerika Serikat atau Drug Enforcement Administration (DEA) karena dilaporkan membantu penyelundupan narkoba. 

    BBC NEWS | GHOIDA RAHMAH 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.