Kereta Jepang Ini Beroperasi Meski Hanya Satu Penumpang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tsukuba Express TX-1000 terlihat berjajar rapih di Metropolitan Intercity Railway Co. Sebuah fasilitas perbaikan dan perakitan kereta api. Jepang, 6 Juli 2015. Akio Kon/Getty Images

    Tsukuba Express TX-1000 terlihat berjajar rapih di Metropolitan Intercity Railway Co. Sebuah fasilitas perbaikan dan perakitan kereta api. Jepang, 6 Juli 2015. Akio Kon/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama bertahun-tahun, hanya ada satu penumpang yang menunggu di Stasiun Kami-Shirataki di Hokkaido, pulau paling utara Jepang. Adalah seorang gadis sekolah tinggi, dalam perjalanan menuju sekolahnya. Kereta berhenti di sana hanya dua kali sehari, sesekali untuk menjemput gadis itu dan mengantarnya kembali ketika sekolah berakhir.

    Kedengarannya seperti film Hayao Miyazaki. Namun, menurut CCTV News, itu adalah keputusan yang Japan Railways, sebuah perusahaan jaringan kereta api Jepang. Keputusan itu dibuat 2-3 tahun yang lalu.

    Pada saat itu, penumpang di Stasiun Kami-Shirataki semakin sedikit karena lokasinya yang terpencil, dan menjadi tujuan akhir layanan angkutan. Japan Railways sedang bersiap-siap untuk menutup stasiun bawah untuk kebaikan-sampai mereka melihat bahwa itu masih digunakan setiap hari oleh beberapa pelajar. Stasiun itu masih dibuka.

    Jadwal perjalanan kereta bahkan disesuaikan dengan jadwal gadis itu. Gadis yang tidak ingin disebutkan namanya ini diharapkan lulus Maret ini, ketika stasiun akhirnya akan ditutup.

    Banyak orang mengangkat topinya mengapresiasi pemerintah Jepang yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. "Mengapa saya tidak ingin mati, ketika pemerintah menyiapkan perjalanan ekstra hanya untuk saya," salah satu komentar menulis di halaman Facebook CCTV. "Ini adalah arti tata kelola yang baik menembus tepat ke tingkat akar rumput. Setiap warga negara penting. Tidak ada anak yang tertinggal."

    Sebuah video YouTube, memberikan rasa belasungkawa atas hilangnya perjalanan kereta ke pedesaan Jepang. Dengan rendahnya angka kelahiran di negara itu, populasi manusia yang makin tua, dan ancaman kehilangan sepertiga dari penduduknya pada 2060, Jepang menghadapi sejumlah krisis termasuk surplus perumahan kosong dan tenaga kerja yang menyusut. Termasuk sistem kereta api bangsa sedang dilanda pergeseran ini.

    Jaringan rel kereta api cepat Jepang terus memperluas jaringan ke pinggiran negara, melayani banyak orang yang lebih tua, dengan kereta api berteknologi rendah dan mulai usang. Stasiun Kami-Shirataki, misalnya, duduk di kota Engaru di bagian pedesaan Hokkaido, yang kehilangan setidaknya 20 jalur rel dalam beberapa dekade terakhir, seperti dilansir majalah Fortune.

    Tetapi jika cerita ini dari seorang gadis muda dan hubungannya dengan Stasiun Kami-Shiratki menjadi indikator, menghilangnya kereta api pedesaan Jepang akan diingat sebagai pelayanan mereka untuk bagian yang paling terpencil di negara ini.

    CITYLAB | ARKHELAUS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.