Bom Bunuh Diri di Lahore Tewaskan 28 orang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bom bunuh diri membubarkan prosesi kaum Shia di Lahore, Pakistan (9/1). AP/K.M.Chaudary

    Bom bunuh diri membubarkan prosesi kaum Shia di Lahore, Pakistan (9/1). AP/K.M.Chaudary

    TEMPO Interaktif, Islamabad - Sedikitnya 28 orang tewas dan 218 lainnya cedera setelah bom bunuh diri, Rabu, meledak di acara prosesi kaum Shia. Demikian keterangan otoritas Pakistan.

    Khalid Ranjha, pejabat pemerintahan Lahore, mengatakan dua anak-anak, dua perempuan, serta tujuh korban lainnya dalam kondisi kritis.

    Menurut juru bicara kepolisian Nayab Haider, tiga ledakan terjadi dalam  radius 600 meter. Ketiga ledakan dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri. Polisi mencoba menghentikan pelaku ledakan pertama, namun pelaku keburu meledakkan dirinya di tengah kerumunan massa yang mengikuti prosesi.

    Tiga menit kemudian, ledakan kedua meletus. Setelah itu, 25 berselang disusul ledakan ketiga. Usai ledakan, polisi menemukan dua kepala dan satu tubuh manusia terpisah, kata Haider.

    Pejabat seniot pemerintah, Khusro Pervez, mengatakan tragedi berdarah tersebut berlangsung saat acara buka puasa ramadan, sementara petugas keamanan melonggarkan pengamanan.

    "Pada akhir prosesi, para petugas keamanan semestinya waspada," kata Pervez. "Kejadian tersebut akibat petugas keamanan lalai."

    Pakistan merupakan negara Islam dengan mayoritas Suni. Serangan terhadap minoritas Muslim Shia menimbulkan ketegangan di antara dua kelompok di Timur Tengah dan Asia.

    Untuk mencegah kerusuhan, pemerintah mengirimkan pasukan para militer ke lokasi kejadian. Sementara itu, siaran televisi menayangkan gambar kemarahan sejumlah orang dengan cara membakar kendaraan, menyerang polisi, dan mencoba menyerbu kantor kepolisian.


    CNN | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.