Al Ghozi Tidak Terbunuh di Kota Pigcawayan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Kotabato: Fathurrahman Al-Ghozi tidak terbunuh dalam baku tembak dengan polisi di Pigcawayan seperti yang diberitakan di media massa, Senin dini hari. Hal itu dikatakan Gubernur Kotabato Utara Emmanuel Pinnol, Senin (13/10) pagi. Menurut Pinol, laporan polisi Pigcawayan menyatakan memang terdengar dua atau tiga kali tembakan di daerah tempat Al Ghozi dilaporkan terbunuh. Sekelompok sipil yang tidak diketahui identitasnya, setelah menembak, kabur dengan menggunakan truk pikup. Dalam sebuah wawancara langsung dengan saluran televisi GMA 7, Pinol mengatakan bahwa walikota dan polisi kota Pigcawayan melaporkan tidak terjadi tembak menembak di desa tempat Al-Ghozi diberitakan tertembak. Walikota dan polisi setempat juga menyangkal bahwa pemerintah setempat terlambat melaporkan “penembakan Al Ghozi”, karena yang terjadi tidak demikian. “Yang ada adalah terdengar tembakan (tidak jelas siapa sasaran atau korbannya,” kata Pinol. Pinol menyebutkan ada kelompok tak dikenal berpakaian sipil menuju ke sebuah klinik pengobatan di kota Midsayap. Kelompok tersebut membawa seorang korban luka tembak, laki-laki berusia 25 – 30 tahun. “Nah, mereka menyebutkan korban sebagai Mister X,” kata Pinol. “Ketika dokter menyatakan Mister X sudah mati, mereka segera pergi begitu saja,” lanjut Pinol. Pinol tidak menyatakan bahwa Mr X yang dimaksud adalah Al Ghozi. Menurut Pinol, jika memang benar terjadi tembak-menembak di daerah yang disebutkan sebagai tempat tertembaknya Al Ghozi, pasti penduduk “militan” di sekitar Kamp Abubakar –bekas tempat aktivis Islam latihan militer-- dan Liguasan Marsh akan membalas. Tapi ternyata tidak. Menurut Pinol, tidak mungkin Al Ghozi yang pernah kabur dari tahanan lebih dari dua bulan lalu, justru dibawa ke Utara Kotabato. “Dia mestinya sudah dibunuh segera setelah ditangkap, bukannya dibawa ke Kotabato,” kata Pinol. “Kami senang Al Ghozi terbunuh, tapi tidak dikaitkan dengan insiden seperti ini,” kata Pinol. Soal terbunuhnya Al Ghozi di Filipina masih menjadi kontroversi. Juru Bicara Kepresidenan Ignacio Bunye, menolak berkomentar atas apa yang dikatakan Gubernur Pinol. Sedangkan para petinggi militer Filipina akan bertemu di Kota General Santos untuk mencari informasi lebih detail atas terbunuhnya Al Ghozi, Senin pagi ini. Sementara itu, berita lain menyatakan, Al Ghozi masih disimpan di rumah jenazah Collado di Kota General Santos, Provinsi Misamis Oriental. Menurut pihak Komando Militer kawasan Selatan Filipina, gigi mayat cocok dengan milik Al Ghozi. Seperti diberitakan, sumber militer Filipina mengatakan, Al Ghozi, Minggu (12/10) malam tewas tertembak dalam sebuah operasi militer gabungan di dekat kota Pigcawayan, Kotabato, selatan Filipina. "Hal ini telah dipastikan, tapi keterangan lebih lanjut menyusul," kata Wakil Kepala Staf Militer Filipina, Letnan Jenderal Rodolfo Garcia. Al-Ghozi divonis 17 tahun penjara karena memiliki bahan peledak ilegal dan terkait dengan pemboman stasiun kereta api di tengah kota Manila pada Desember 2000. Al Ghozi berhasil melarikan diri dari penjara Markas Besar Kepolisian Filipina, Camp Crme bersama dengan anggota Abus Sayyaf Abdul Mukmin Ong Edris dan Omar Opik Lasal, pada 14 Juli 2003. Edris terbunuh di Provinsi Lanao Utara, Agustus lalu, sedangkan Lasal ditangkap di Zamboanga Sibugay minggu lalu. Dengan kematian Al-Ghozi dan Edris, aparat Filipina bergantung sepenuhnya pada keterangan Lasal untuk mendapat keterangan cara melarikan diri dari penjara. Presiden Arroyo sendiri membentuk tim investigasi untuk menguak kemungkinan pelarian Al Ghozi berkolusi dengan petugas penjara. INQ7.net/Bina, AFP/ Mahdi– Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.