Rusia Campur Vaksin Covid Sputnik V dengan AstraZeneca, Hasilnya?

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tabung reaksi terlihat di depan logo Sputnik V yang ditampilkan dalam ilustrasi yang diambil, 21 Mei 2021. [REUTERS/Dado Ruvic]

    Tabung reaksi terlihat di depan logo Sputnik V yang ditampilkan dalam ilustrasi yang diambil, 21 Mei 2021. [REUTERS/Dado Ruvic]

    TEMPO.CO, Jakarta - Rusia melakukan uji coba mencampur dosis pertama vaksin covid-19 Sputnik V buatannya dengan AstraZeneca. Hasilnya tidak ada efek samping yang serius dan para sukarelawan tidak terinfeksi virus corona.

    Menurut lembaga Russian Direct Investment Fund atau RDIF, uji coba melibatkan 50 orang yang dimulai di Azerbaijan pada Februari 2021. RDIF adalah lembaga yang bertanggung jawab atas pemasaran vaksin Sputnik V di luar negeri. Hasil lengkap uji coba, termasuk data tentang respons imun yang dihasilkan oleh vaksin kombinasi akan dipublikasikan bulan depan.

    Sputnik V dan AstraZeneca adalah vaksin vektor virus yang didasarkan pada dosis pertama diikuti oleh booster. Tembakan vektor virus tersebut menggunakan virus modifikasi yang tidak berbahaya sebagai vektor, untuk membawa informasi genetik yang membantu tubuh membangun kekebalan terhadap infeksi di masa depan.

    Dosis pertama Sputnik V didasarkan pada adenovirus tipe 26, sedangkan vaksin COVID-19 AstraZeneca, yang dikembangkan bersama dengan Universitas Oxford, menggunakan vektor adenovirus simpanse. Rusia pada hari Senin memberi lampu hijau untuk uji klinis yang menggabungkan suntikan AstraZeneca dan Sputnik V di lima klinik Rusia.

    Sebelumnya vaksin AstraZeneca juga dicampur dengan vaksin Pfizer. Dalam penelitian di Korea Selatan, AstraZeneca pada suntikan pertama dan Pfizer untuk suntikan kedua, mampu meningkatkan antibodi hingga enam kali lipat melawan Covid-19.

    Penelitian ini melibatkan 499 pekerja medis. Sebanyak 100 orang telah menerima dosis campuran dan 200 orang menerima dua dosis suntikan Pfizer-BioNTech. Sedangkan sisanya mendapatkan dua suntikan AstraZeneca.

    Hasilnya menunjukkan vaksin campuran menghasilkan antibodi penetralisir serupa dengan yang ditemukan di kelompok penerima dua suntikan vaksin Pfizer.

    Sebuah penelitian di Inggris bulan lalu juga menunjukkan hasil yang sama. Vaksin AstraZeneca pada suntikan pertama, diikuti oleh Pfizer menghasilkan respons sel T paling baik. Respons antibodi yang dihasilkan lebih tinggi daripada Pfizer yang diikuti oleh AstraZeneca.

    Baca: Studi: Campuran Vaksin AstraZeneca Pfizer Tingkatkan Antibodi Hingga 6 Kali

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.