Vaksinasi COVID-19 Selanjutnya di Inggris Bakal Mengacu pada Usia

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • William Shakespeare (81) yang berasal dari Conventry menjadi salah satu penerima pertama vaksin COVID-19 di Inggris (Sumber: REUTERS)

    William Shakespeare (81) yang berasal dari Conventry menjadi salah satu penerima pertama vaksin COVID-19 di Inggris (Sumber: REUTERS)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian dan guru tidak akan masuk dalam kelompok prioritas pada kampanye vaksinasi COVID-19 tahap kedua. Pemerintah Inggris menyatakan, prioritas vaksinasi COVID-19 selanjutnya akan mengacu pada usia, bukan lagi profesi.

    "Kampanye vaksinasi yang berlandaskan pada usia akan lebih sederhana. Kesederhanaan sudah menjadi kunci kenapa vaksinasi COVID-19 di Inggris bisa berjalan begitu cepat," ujar Wei Shen Lin, Kepala dari Komite Gabungan Vaksinasi dan Imunisasi Inggris, Jumat, 26 Februari 2021.

    Inggris adalah satu negara tercepat di dunia dalam melakukan vaksinasi COVID-19. Per berita ini ditulis, Inggris sudah menyuntikkan kurang lebih 18,5 juta dosis atau setara 27 per 100 orang. Angka itu nyaris lima kali lipat lebih tinggi dibanding negara-negara besar Eropa seperti Prancis dan Jerman yang baru bisa menyuntik 6 per 100 orang.

    Sebelumnya, vaksinasi di Inggris mengutamakan profesi dibanding usia. Mereka yang bekerja melayani publik seperti guru, polisi, dan petugas medis diprioritaskan lebih dulu bersama lansia. Dengan perubahan baru ini, Pemerintah Inggris berharap ritme vaksinasi COVID-19 bisa dijaga hingga semua warga Inggris menerima dosis vaksin.

    Untuk vaksinasi COVID-19 tahap dua, yang ditargetkan berlangsung April ini, Inggris telah menetapkan tiga kelompok usia prioritas. Kelompok pertama adalah mereka yang berusia 40-49 tahun. Sementara itu, untuk kelompok kedua adalah 30-39 tahun dan 18-29 tahun untuk kelompok ketiga.

    "Memberikan vaksin COVID-19 berdasarkan profesi relatif lebih rumit dan dikhawatirkan malah menimbulkan keterlambatan," ujar Wei Shen Lin.

    Tidak semua pihak menerima keputusan soal vaksinasi COVID-19 tersebut. Kepala Federasi Kepolisian Inggris dan Wales, John Apter, memandang keputusan itu sebagai pengkhianatan terhadap personil di lapangan. "Kami tidak akan melupakan pengkhianatan ini," ujar Apter.

    Baca juga: Inggris Turunkan Status Darurat COVID-19 Satu Level

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.