Pengadilan Denmark Adili Kasus Batuk di Depan Polisi Sambil Teriak Corona

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan jalan Stroeget yang sepi di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19) di Kopenhagen, Denmark 12 Januari 2021. [Emil Helms Ritzau Scanpix / via REUTERS]

    Pemandangan jalan Stroeget yang sepi di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19) di Kopenhagen, Denmark 12 Januari 2021. [Emil Helms Ritzau Scanpix / via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengadilan tinggi Denmark pada Kamis memulai sidang banding untuk memutuskan apakah batuk di hadapan seseorang sambil meneriakkan "corona" merupakan perilaku yang mengancam.

    Ini bermula ketika terdakwa yang berusia 20 tahun dalam kasus tersebut ditangkap pada bulan Maret, ketika Denmark berada di bawah lockdown penuh virus corona. Terdakwa batuk di depan polisi sambil meneriakkan "corona" saat mengatur lalu lintas.

    Jaksa menyebut tindakan itu "kejam dan tidak bijaksana". Terdakwa kemudian dites Covid-19 dan hasilnya negatif.

    Dikutip dari Reuters, 15 Februari 2021, terdakwa pertama kali dibebaskan di pengadilan lokal, tetapi kemudian dihukum karena pelanggaran di Pengadilan Tinggi Barat Denmark. Dan pada banding ke Mahkamah Agung terhadap hukuman tersebut, jaksa penuntut sedang mengupayakan hukuman penjara tiga sampai lima bulan.

    Mahkamah Agung dijadwalkan memberikan putusannya apakah akan menghukum kasus batuk itu pada 18 Februari.

    Insiden batuk serupa lainnya yang ditujukan kepada polisi dilaporkan di Denmark tahun lalu, yang sebagian besar merupakan cerminan dari ketidakpuasan publik atas penanganan pemerintah terhadap krisis Covid-19.

    Pada 13 Januari Denmark memperpanjang lockdown ketat setidaknya tiga minggu untuk membatasi penyebaran virus corona, khususnya varian baru virus yang lebih menular yang menyebar di negara Nordik itu.

    Akhirnya Denmark terpecah antara apakah mesti melakukan pembatasan ketat atau melonggarkan lockdown dengan risiko penyebaran masif.

    Pemerintah, yang mengatakan mengikuti "prinsip kehati-hatian" dalam mengendalikan virus, mendapat dukungan publik yang hampir tegas untuk tindakan cepat melawan Covid-19 pada awal tahun lalu.

    Tetapi partai-partai oposisi mulai mempertanyakan apa yang beberapa orang anggap sebagai pendekatan yang terlalu berhati-hati karena tingkat infeksi turun, dan 30% orang Denmark sekarang menganggap tindakan pemerintah terlalu jauh, menurut penelitian Universitas Aarhus baru-baru ini.

    Perdana Menteri Mette Frederiksen pekan ini mengatakan pencabutan lockdown membutuhkan "kendali epidemi penuh".

    Dalam beberapa bulan terakhir, ribuan orang turun ke jalan memprotes lockdown, beberapa di antaranya berujung rusuh. Mereka menuntut pihak berwenang untuk melonggarkan lockdown yang mereka katakan membatasi kebebasan mereka dan melumpuhkan bisnis.

    Baca juga: Kutub Utara Jadi Rebutan, Denmark Akan Kerahkan Drone dan Radar

    Ahli virologi, otoritas kesehatan, dan pemerintah telah membela lockdown saat ini, yang telah menutup sebagian besar wilayah selain dari toko-toko penting, ketika Denmark berupaya mengendalikan varian baru virus corona yang lebih menular, terutama yang pertama kali diidentifikasi di Inggris dan Afrika Selatan dan telah mencapai Denmark.

    Hanya 470 kasus Covid-19 yang terdaftar dalam 24 jam terakhir, turun dari ribuan infeksi harian akhir tahun lalu, tetapi jumlah orang yang terinfeksi varian Covid-19 Inggris terus meningkat.

    Denmark secara total mencatat lebih dari 200.000 infeksi corona, dengan 2.269 kematian terkait.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.