Utusan Amerika Tiba di Korea Selatan untuk Bahas Nuklir

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Detik-detik peluncuran proyektil jarak pendek di Wonsan, Korea Utara, Sabtu, 4 Mei 2019 waktu setempat. Sejumlah analis menduga Korea Utara berusaha memperkuat tekanan kepada Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un gagal mencapai kesepakatan tentang denuklirisasi dalam KTT di Hanoi, Vietnam Februari lalu. KCNA via REUTERS

    Detik-detik peluncuran proyektil jarak pendek di Wonsan, Korea Utara, Sabtu, 4 Mei 2019 waktu setempat. Sejumlah analis menduga Korea Utara berusaha memperkuat tekanan kepada Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un gagal mencapai kesepakatan tentang denuklirisasi dalam KTT di Hanoi, Vietnam Februari lalu. KCNA via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Utusan khusus dari Amerika, Deputi Menteri Pertahanan Stephen Biegun, telah tiba di Korea Selatan untuk melanjutkan pembahasan mereka terkait denuklirisasi Korea Utara. Adapun pertemuan itu akan dilangsungkan tanpa kehadiran delegasi Korea Utara yang merasa tidak perlu hadir.

    Direktur Jenderal Urusan Amerika di Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Kwon Jong Gun, mengatakan pihaknya merasa tidak perlu ada pertemuan lagi dengan Amerika soal denuklirisasi. Dan, menurutnya, Korea Selatan tidak seharusnya ikut campur dalam urusan nuklir antara Amerika dan Korea Utara.

    "Sudah saatnya Korea Selatan belajar untuk tidak ikut campur urusan negara lain. Namun, sepertinya, memang tidak ada obat untuk kebiasaan buruk," ujar Kwon Jong Gun, sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Selasa, 7 Juli 2020.

    Diberitakan sebelumnya, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan memburuk akibat urusan pembelot. Pembelot asal Korea Utara, yang bertahan di Korea Selatan, mengirimkan bantuan dan pesan propaganda ke Pyongyang untuk mengajak warga di sana melawan rezim Pemimpin Agung Kim Jong Un.

    Korea Utara marah besar atas masalah tersebut. Mereka menuduh Korea Selatan gagal mencegah pembelot beraksi. Korea Utara kemudian mengancam akan keluar dari negosiasi denuklirisasi karena dianggap tidak menguntungkan mereka. Negosiasi itu sudah berlangsung sejak Donald Trump menjadi Presiden Amerika dan selalu gagal walau Trump dan Kim Jong Un sudah tatap muka.

    Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mencoba meredakan masalah ini. Ia kemudian merancang pertemuan Amerika dan Korea Utara untuk melanjutkan pembahasan denuklirisasi. Moon Jae-in ingin kejelasan ada sebelum Pilpres Amerika digelar. Namun, seperti dikatakan di atas, Korea Utara menolak.

    "Perlu saya tegaskan sekali lagi, kami tidak memiliki niatan apapun untuk bertemu tatap muka dengan Amerika," ujar Kwon Jong Gun.

    Pakar Korea Utara dari Seoul, Yang Moo-jin, menyebut pernyataan Korea Utara sebagai wujud buruknya situasi inter-Korea. Menurutnya, tampak jelas Korea Utara hanya mau mendiskusikan denuklirisasi dengan Amerika apabil Korea Selatan tidak terlibat dalam kapasitas apapun.

    "Korea Utara ingin meninggalkan konsep lama di mana Korea Selatan bermain sebagai broker," ujar Yang Moo-Jin.

    Pertemuan Korea Selatan dan Amerika dijadwalkan berlangsung pada esok Rabu. Biegun sebelumnya sempat mengatakan bahwa ada saatnya Korea Selatan dan Korea Utara harus berdamai untuk memperbuat perkembangan signifikan terkait denuklirisasi.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.