Ahli Konservasi Khawatir Nasib Kelelawar Dipicu Ulah Media Sosial

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kelelawar. Bats.org.uk

    Ilustrasi kelelawar. Bats.org.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok ahli konservasi mengatakan, saat ini terjadi pelampiasan kemarahan yang salah terhadap kelelawar sehubungan wabah virus corona akibat kecerobohan media sosial yang tidak dapat dipercaya. 

    Menurut Lisa Worledge dari Bat Conservation Trust atau BCT mengkhawatirkan reputasi kelelawar dalam jangka panjang karena beberapa negara melakukan pemusnahan kelelawar untuk mencegah penyebaran virus corona atau COVID-19.

    "Menyaksikan reaksi beberapa orang, yang ketakutan dan sangat salah menempatkan rasa takut, karena hal ceroboh dikatakan media sosial, sungguh memilukan," kata Worledge sebagaimana dilaporkan Sky News, 19 Mei 2020.

    Worledge mengatakan, bukan kelelawar penyebab wabah virus corona, melainkan manusia dalam memperlakukan lingkungan dan hewan liar.

    Seperti kelelawar yang hidup di alam bebas, bukan untuk diperdagangkan di pasar menjadi konsumsi manusia. Hewan-hewan liar yang diperdagangkan akan terus ketakutan dan stres.

    "Setara dengan perusakan hutan alam untuk produksi ternak," ujarnya.

    Worledge bersyukur banyak orang menjadi relawan dan begitu juga warga masyarakat yang mendukung perlindungan kelelawar.

    Di Inggris, kelelawar merupakan hewan yang dilindungi sehingga ratusan ribu hewan mamalia bersayap ini hidup bebas di seluruh negeri.

    Worledge pun menyarankan agar siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang kelelawar secara ilmiah, dipersilakan datang ke konservasi daripada mendengar informasi salah dari media sosial.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.