RS Amerika Terapkan Sistem Ranking untuk Pasien Virus Corona

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat akan melakukan tes virus corona atau Covid-19 secara drive thru di Seattle, Washington, 17 Maret 2020. REUTERS/Brian Snyder

    Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat akan melakukan tes virus corona atau Covid-19 secara drive thru di Seattle, Washington, 17 Maret 2020. REUTERS/Brian Snyder

    TEMPO.CO, Jakarta - Terbatasnya tenaga dan perlengkapan medis memaksa rumah sakit Amerika untuk lebih selektif dalam menangani pasien virus Corona. Dokter Robert Truog, dari Center for Bioethics of Harvard Medical School, membantu otoritas kesehatan Amerika menciptakan sistem seleksi berdasarkan ranking untuk situasi itu. 

    "Saya menghabiskan akhir pekan saya membantu rumah sakit untuk mengembangkan kebijakan seleksi pasien mana yang perlu dirawat terlebih dahulu," ujar Truog sebagaimana dikutip dari CNN, Sabtu, 4 April 2020.

    Sistem ranking yang dibuat Truog mengacu pada sistem yang dibuat Dr. Douglas White dari University of Pittsburgh. Sistem itu diciptakan 10 tahun lalu ketika wabah flu burung menyerang Amerika.

    Pada intinya, kata Truog, sistem itu mengukur prioritas perawatan berdasarkan dua faktor. Faktor pertama, seberapa besar kemungkinan pasien bisa disembuhkan di rumah sakit. Faktor kedua, seberapa besar kemungkinan pasien hidup lama setelah keluar dari rumah sakit. Untuk faktor kedua, rumah sakit akan memasang ekspektasi paling tidak pasien bisa bertahan lima tahun.

    Masing-masing faktor diukur dengan skala 1-4 atau delapan jika keduanya dijumlahkan. Jika seorang pasien mendapat skor delapan, maka ia berhak diprioritaskan terlebih dahulu. Sistem ini dirasa lebih adil.

    Situasinya akan berbeda apabila ada dua pasien dengan skor serupa. Dalam situasi tersebut, maka masa hidup harus menjadi fokus utama. Kecenderungannya, pilihan akan jatuh kepada pasien yang lebih muda. "Situasi yang tragis dengan pilihan yang sulit," sebagaimana dikutip dari CNN.

    Meski sistem yang dikembangkan akan membantu tenaga medis untuk menghemat peralatan, Truog mengatakan bahwa situasi yang dihadapi akan tetap terasa berat. Semakin menanjaknya kasus virus Corona, kata Truog, akan semakin banyak pilihan-pilihan sulit yang harus dihadapi.

    "Beberapa hari ke depan mungkin petugas medis akan menghadapi situasi di mana mereka harus membuat keputusan sulit yang selama ini jarang mereka hadapi. Itu akan berdampak secara emosional," ujar Truog.

    Secara terpisah, White menjelaskan bahwa sistemnya memang bisa diterapkan dalam situasi pandemi Corona. Dan, menurutnya, sistem yang ia buat lebih adil karena tidak melihat faktor yang kerap membuat pasien tertentu dikecualikan. Beberapa faktor itu adalah usia, gangguan kognisi, gangguan pernafasan, dan ganggunan jantung.

    "Menurut saya faktor-faktor pengecualian itu tidak adil dan mengirimkan pesan yang salah. Semua pasien berhak mendapatkan penanganan yang sama. Di dalam bidang medis, rasa percaya adalah penting," ujarnya.

    Dr. Ira Byock, dari Institute for Human Caring California, menyampaikan bahwa situasi pandemi yang terjadi menjadi ujian berat untuk para petugas medis. Menurutnya, ini pertama kalinya petugas medis harus bisa seimbang antara kesehatan komunitas dengan kesehatan seorang pasien. "Selama ini, fokus kami adalah kesehatan pasien," ujarnya.

    Hingga berita ini ditulis, Amerika tercatat memiliki 273.880 kasus dan 7.087 korban meninggal akibat virus Corona (COVID-19). Tidak semua negara bagian memiliki cukup tenaga dan perlengkapan medis untuk menghadapinya. New York, misalnya, hanya memiliki stok ventilator yang cukup untuk 6 hari.

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.