Bersaksi di Sidang, Etnis Rohingya Soraki Suu Kyi Pembohong

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aung San Suu Kyi. NYtimes.com/Nyein Chan Naing

    Aung San Suu Kyi. NYtimes.com/Nyein Chan Naing

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat etnis Rohingya di negara bagian Rakhine melalui televisi mengikuti sidang sesi dengar Pemimpin de Facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, di Pengadilan Internasional, Den Haag, Belanda. Dalam sidang Rabu, 11 Desember 2019, beberapa pengungsi yang menonton meneriakkan Suu Kyi kata-kata ‘pembohong' dan 'memalukan’.

    “Dia adalah seorang pembohong. Pembohong besar. Malulah dia,” kata Abdur Rahim, 52 tahun, saat menyaksikan di televisi kesaksian Suu Kyi di persidangan. 

    Rahim menyaksikan jalannya persidangan di sebuah pusat komunitas di kamp Kutupalong. Negara bagian Rakhine tempat tinggal etnis minoritas Rohingya berbatasan dengan Bangladesh.   

    Sedangkan di Kota pusat komersial Yangon, Myanmar, terjadi aksi mendukung Suu Kyi. Aksi tersebut sudah dilakukan dalam beberapa hari terakhir yang diikuti ratusan orang, termasuk sejumlah biksu dan PNS. Mereka juga menonton siaran langsung di sebuah taman sidang sesi dengar kesaksian Suu Kyi di Pengadilan Internasional. Beberapa orang bahkan ada yang merekam keterangan Suu Kyi dengan ponsel mereka. 

    “Tim pengacara sangat brilian. Karena ini soal kebenaran, maka mereka sangat percaya diri. Mereka mengatakan kebenaran,” kata Khin Nu, 62 tahun, warga Myanmar.        

    Suu Kyi adalah pemenang penghargaan Nobel bidang perdamaian 1991. Pada 2016, dia memenangkan pemilu, namun berdasarkan konstitusi dia harus berbagi kekuasaan dengan militer Myanmar yang sudah berkuasa di negara itu selama berpuluh tahun.  

    Sidang sesi dengar dugaan genosida terhadap etnis Rohinga pada Agustus 2017 berlangsung selama tiga hari di Pengadilan Internasional, Belanda. Gugatan diajukan oleh Gambia, sebuah negara di Afrika, yang menuding Myanmar telah menciderai aturan Genosida Convention 1948. Suu Kyi bersaksi di persidangan untuk membela kepentingan negaranya dengan menyatakan tuduhan genosida pada Myanmar, menyesatkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.