Wanita Lajang Cina Pilih Pacaran dengan Kekasih Virtual

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi online dating/ kencan online. Digitaltrends.com

    Ilustrasi online dating/ kencan online. Digitaltrends.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kaum wanita lajang di Cina rela menghabiskan uang untuk berkencan dengan pria yang dibayar untuk menjadi teman atau kekasih online.

    Layaknya seorang kekasih, mereka berkencan mesra secara online. Mereka tidak pernah bertatap wajah atau saling kenal sebelumnya.

    Mereka dipertemukan karena kebutuhan yang saling klop, si wanita butuh teman curhat dan kasih sayang sekalipun virtual, dan si pria membutuhkan uang wanita tersebut. Sebab, pria ini dibayar untuk menjadi kekasih virtual wanita lajang.

    Layanan pacar online disediakan oleh aplikasi pesan yang hanya ada di Cina, yaitu WeChat dan situs e-commerce Taobao.

    Menurut laporan Asia One, 8 Desember 2019, aplikasi ini menetapkan tarif untuk layanan kencan bagi wanita lajang, mulai dari beberapan yuan untuk setengah jam hingga ribuan yuan untuk lebih dari satu jam.

    Seorang wanita lajang yang berstatus mahasiswa kedokteran di Cina menghabiskan sekitar US$190 atau setara Rp 2,2 juta untuk berkencan dengan kekasih virtualnya.

    "Jika seseorang mau terus menemani saya dan kencan, saya dengan senang hati mengeluarkan uang," kata Robin, tanpa bersedia menyebut nama lengkapnya.

    Berkencan online dengan pria yang dibayar merupakan fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan wanita di Cina. Pilihan berkencan dengan pacar secara online menjadi populer di kalangan wanita Cina kelas menengah. Umumnya mereka fokus pada karir tanpa berencana menikah dan berkeluarga.

    Fenomena ini juga menjadi ladang uang bagi para pria yang bersedia menjadi pacar virtual wanita lajang di Cina.

    Menurut Chris K.K. Tan, profesor di Universitas Nanjing, orang telah menemukan cara untuk mengkomodifikasi kasih sayang.

    "Ini mode baru tentang kewanitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Cina," ujar Tan.

    Dengan peningkatan situasi ekonomi Cina, semakin sedikit wanita memilih untuk menikah.

    Badan Biro Nasional Cina menyebutkan, angka pernikahan di Cina pada lima tahun terakhir telah menurun tajam. Tahun lalu angka pernikahan sebesar 7.2 dari seribu orang.

    Sekalipun secara materi semakin membaik, namun kehidupan wanita kota di Cina membuat mereka terisolasi. "Membayar pacar virtual dianggap sebagai peluang mereka untuk bereksperimen dengan cinta dan hubungan," ujar Tan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?