Janggut Oranye Trend di Bangladesh, Mengapa?

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pria mewarnai janggutnya dengan warna kuning lagi trend di Bangladesh. [ARAB NEWS]

    Pria mewarnai janggutnya dengan warna kuning lagi trend di Bangladesh. [ARAB NEWS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pria-pria Muslim Bangladesh saat ini keranjingan memiliki janggut oranye. Hampir di sepanjang jalan Dhaka, ibukota Bangladesh tampak mereka berjanggut oranye. Seperti trend fashion, mereka mewarnai sendiri janggut mereka atau pergi ke salon.

    Mereka mewarnai janggut dengan henna, pewarna tradisional yang sudah terkenal di Bangladesh beberapa dekade lamanya.

    Henna juga sudah lama digunakan komunitas-komunitas Muslim di Asia dan Timur Tengah.

    "Saya telah menggunakannya pada rambut saya selama 2 bulan terakhir. Saya menyukainya," kata Mahbubul Bashar, 50 tahun penuh kegembiraan, sebagaimana dilaporkan Arab News, 22 Oktober 2019.

    "Saya menyukainya. Keluarga saya mengatakan saya tampak lebih muda dan ganteng," ujar Abul Mia, 60 tahun, pengangkut bara di pasar sayur di Dhaka.

    Tidak hanya janggut berwarna oranye, tapi juga kepala para lelaki di Bangladesh.

    "Menaruh henna menjadi pilihan fashion pria dewasa beberapa tahun terakhir," kata Didarul Dipu, jurnalis fashion di majalah Canvas.

    Namun apa alasan trend janggut berwarna oranye muncul di negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, sekitar 168 juta jiwa.

    Menurut seorang warga Dhaka, Abu Taher, dirinya mengikuti Nabi Muhammad yang menggunakan henna untuk janggutnya.

    "Saya mendengar ulama bahwa nabi Muhammad menggunakan henna untuk janggutnya. Saya hanya mengikuti," kata Abu Thaher.

    Menurut profesor Sosiologi dari Universitas Dhaka, Monirul Islam Khan, trend janggut oranye merupakan sinyal meningkatnya semangat Muslim di masyarakat Bangladesh. Bahkan di kalangan Muslim yang moderat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.