Partai Komunis Cina Bangun Pengaruh di Singapura

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bendera Nasional Cina [www.persecution.org]

    Bendera Nasional Cina [www.persecution.org]

    TEMPO.CO, Singapura - Partai Komunis Cina lewat kebijak pemerintah Cina menggunakan organisasi budaya, asosiasi klan, asosiasi bisnis dan program pemuda untuk menyebarkan pengaruh di Singapura.

    Lembaga riset asal Amerika Serikat, Jamestown Foundation, melansir hasil riset ini menunjukkan tujuan fundamental dari operasi pengaruh ini adalah untuk menyebarkan identitas Cina pada warga Singapura.

    Peneliti Russell Hsiao mengatakan ini akan membantu untuk membuat Singapura semakin dekat dengan kepentingan Cina. Laporan ini berjudul “A Preliminary Survey of CCP Influence Operations in Singapore”. 

    “Upaya-upaya propaganda Partai Komunis Cina di Singapura ditujukan untuk mempromosikan narasi “Cina Raya” yang melibatkan semua etnis Cina tanpa memandang nasionalitas,” kata Hsiao, direktur eksekutif Global Taiwan Institute, menanggapi hasil riset itu seperti dilansir Straits Times pada Kamis, 18 Juli 2019.

    Hsiao mengatakan hasil riset ini menunjukkan adanya upaya PKC untuk mempengaruhi etnis Cina di Singapura lewat hubungan marga dan asosiasi bisnis.

    Peneliti Hsiao juga menulis artikel dengan tema serupa mengenai upaya PKC menyebarkan pengaruhnya di Jepang.

    Menurut dia, 76.2 persen populasi Singapura yang berjumlah 5.8 juta merupakan etnis Cina. Tapi negara ini merupakan bangsa yang multirasial dan multikultural.

    Menurut Hsiao, generasi tua warga Cina Singapura memiliki rasa ikatan yang lebih kuat terhadap Cina daratan. Upaya pendekatan PKC terhadap kelompok generasi ini adalah untuk membangun rasa kebanggaan etnis dan semangat nasionalisme Cina.

    Banyak dari generasi sepuh ini merupakan anggota dari asosiasi marga atau klan. Ini menjadi saluran penting yang digunakan Cina darata untuk melakukan pendekatan. Pendekatan dilakukan lewat pertukaran budaya ke lokasi revolusi bersejarah, konser lagu-lagu komunis, dan kunjungan ke rumah nenek moyang di Cina.

    Hsiao mengatakan upaya pertukaran ini didukung oleh kantor-kantor lokal yang dioperasikan oleh organisasi United Front Work Departemen, yang dikendalikan PKC.

    Namun, generasi muda Cina Singapura merasa kurang tertarik dengan Cina daratan dan kurang tertarik bergabung dengan asosiasi marga atau klan.

    PKC lalu mengubah pendekatan terhadap kelompok generasi muda dengan mempromosikan berbagai kesempatan ekonomi dan kedekatan kultural dengan Cina daratan.

    Hsiao menyebut China Cultural Centre di Queen Street merupakan institusi untuk menciptakan identitas sama dengan Cina. Ini merupakan satu dari 20 pusat budaya yang dibangun Beijing secara global.

    Peneliti ini juga mengatakan asosiasi bisnis di Singapura merupakan kelompok lobi paling kuat untuk mempromosikan kepentingan Cina.

    Pemerintah Cina, lanjut Hsiao, bisa menggunakan saluran bisnis ini sebagai kekuatan terhadap pengusaha Cina Singapura untuk mempersulit mendapatkan kontak, perizinan, lisensi, dan pinjaman di Cina.

    “Ini terutama terjadi di sektor properti, yang menjadi lahan investasi signifikan warga Singapura di Cina,” kata dia.

    Dia mencontohkan besarnya pengaruh lobi asosiasi bisnis terhadap pemerintah Singapura terkait posisi agar pro-Cina.

    Pertama adalah saat PM Lee Hsien Loong mengunjungi Taiwan secara diam-diam pada 2004 sebelum dilantik. Ini menimbulkan kemarahan besar Cina.

    Kedua adalah saat sembilan kendaraan baja angkatan bersenjata Singapura disita di pelabuhan Hong Kong pada 2016. Kendaraan itu akan dibawa kembali ke Singapura seusai latihan militer di Taiwan. Kendaraan baja Terrex itu baru dikembalikan pada 2017 setelah sempat ditahan.

    Hsiao menulis,”Reaksi keras Beijing terkait dukungan Singapura terhadap putusan mengenai Laut Cina Selatan merefleksikan keyakinan luas dan mendalam negara itu bahwa sebagai negara mayoritas etnis Cina maka Singapura seharusnya memahami dan mendukung posisi Cina.”

    Menurut Hsiao Presiden Cina, Xi Jinping, membuat kebijakan yang mengaburkan batasan antara rakyat Cina dan warga Cina diaspora. Ini membuat propaganda semakin intensif da muncul legislasi baru yang terkait dengan diaspora Cina. Ini meningkatkan kekhawatiran di Singapura.

    “Pemerintah Singapura memandang identitas sebagai isu eksistensial dan lebih cenderung menolak upaya-upaya PKC untuk memasuki area ini,” kata Hsiao soal upaya pemerintah Cina ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.