Hun Sen ingin Kamboja Punya Satu Partai seperti Cina?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. AP Photo

    Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. AP Photo

    TEMPO.CO, Phnom Penh - Setelah menyapu bersih kursi pada pemilu legislatif 25 Februari 2018 kemarin, Partai Rakyat Kamboja (CPP), yang diketuai Perdana Menteri Hun Sen, mencoba meyakinkan masyarakat soal keuntungan satu partai berkuasa dan mayoritas. CPP menceritakan kesuksesan Cina sebagai contohnya. 

    Juru bicara CPP yang baru, Sok Eysan, seperti dilansir dari Phnompenhpost pada Selasa, 27 Februari 2018, mengatakan hasil pemilu legislatif yang dimenangkan CPP tidak perlu diragukan. Kemenangan ini sebaliknya akan membuat CPP lebih mudah menciptakan stabilitas.   

    “Kita pernah melihat dua partai di Dewan Nasional dan apa yang bisa kita ambil manfaat dari dua partai di Dewan Nasional itu?,” kata Eysan.

      

    Baca: Partai Hun Sen Sapu Bersih Pemilu, Ini Seruan Oposisi Kamboja

    Surat kabar bergambar Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. REUTERS 

    Pemilu pada akhir pekan lalu itu, yang diikuti oleh empat partai,  dimenangkan CPP, yang diketuai oleh Perdana Menteri Hun Sen. CPP mendapat 58 kursi dari total 62 kursi yang diperebutkan. Dengan raihan ini, maka CPP hampir dipastikan mengendalikan banyak sektor di Kamboja dan meningkatkan jumlah kursi di Dewan Nasional.

    Sebelumnya pada Senin, 26 Februari 2018, Eysan mengatakan sebuah tindakan yang sangat keliru untuk tidak menghormati CPP. Dia beralasan memiliki satu partai, yang mendominasi dua majelis di parlemen, akan lebih mudah menghapuskan segala bentuk tantangan legislatif. Dia pun membandingkan Cina yang perekonomian maju pesat di bawah kepemimpinan satu partai.

    “Cina itu populasinya terbanyak di dunia dan bagaimana kita bisa mengatakan mereka (pemerintah) otoriter? Negara itu bahkan sekarang menjadi negara dengan perekonomian terbesar,” kata Eysan.

    Baca: Jusuf Kalla Minta Dukungan Kamboja untuk Investor Indonesia

    Dia pun membandingkan Cina dengan Amerika Serikat, yang memiliki dua partai besar, yakni partai Republik dan partai Demokrat. Dia menyoroti jalan buntu yang dihadapi Kongres Amerika Serikat dan Presiden Donald Trump atas undang-undang anggaran pengeluaran.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.