Korban Pelecehan Dokter Timnas Senam AS: Saya Ingin Mati Saja

Reporter:
Editor:

Sita Planasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jordyn Wieber, mantan pesenam peraih emas Olimpiade. (Dale G. Young/Detroit News via AP)

    Jordyn Wieber, mantan pesenam peraih emas Olimpiade. (Dale G. Young/Detroit News via AP)

    TEMPO.CO, Jakarta -Berbekal keberanian, satu demi per satu korban pelecehan seksual dokter timnas senam AS memberikan kesaksian di pengadilan Lansing, Michigan, Amerika Serikat, selama sepekan.

    Seperti dilansir The New York Times, Rabu 24 Januari 2018, lebih dari 100 korban memberikan kesaksian langsung maupun tercatat atas perlakuan biadab dr. Lawrence G. Nassar—yang divonis 175 tahun penjara pada Rabu lalu.

    Selama sepekan mereka memberi kesaksian. Perempuan dan para remaja putri—sebagian dari mereka adalah pesenam terbaik di Amerika Serikat, sementara lainnya hancur akibat tindakan keji pria yang duduk hanya beberapa meter dari mereka di ruang persidangan.

    Ada yang memberikan kesaksian melalui surat. Ada yang menangis sesenggukan. Ada yang menjerit marah. Tetapi mereka semua bertekat agar Larry Nassar tidak akan lagi menyentuh siapa pun hingga akhir hayatnya.

    Salah satu kisah yang paling mencekam dialami McKayla Maroney. Pesenam yang membantu tim nasional Amerika Serikat meraih medali emas dalam Olimpiade London pada 2012, menuturkan melalui surat bahwa dirinya ingin mati ketika dilecehkan sang dokter.

    Baca juga:

    Terbukti Melecehkan, Dokter Timnas Senam AS Divonis 175 Tahun Bui

    “Bagi saya, malam paling menakutkan dalam hidup saya terjadi ketika berusia 15 tahun. Saya terbang sehari semalam untuk sebuah kompetisi di Tokyo. (Nassar memberi) saya sebuah pil tidur selama perjalanan. Dan yang saya tahu, kami berada di kamar hotel berdua. Saya berpikir saya akan mati malam itu.”

    Sementara anggota timnas senam AS Olimpiade London yang lain, Jordyn Wieber (22), di hadapan sidang mengungkapkan kemarahannya karena U.S.A. Gymnastics mengirim dokter pelaku pelecehan seksual untuk merawat mereka.

    “Tubuh kami bergelantungan di London,” kata Wieber yang baru mengakui sebagai korban beberapa hari sebelum sidang. “Dan siapa yang dikirim oleh U.S.A. Gymnastics? Doktor pelaku pelecehan seksual.”

    Sementara Aly Raisman, 23 tahun, pesenam peraih medali emas bagi Amerika Serikat dalam dua Olimpiade terakhir, menuturkan bagaimana Nassar pada suatu malam mengetuk pintu hotel dan kemudian melecehkannya.

    “Saya tidak akan berhenti hingga seluruh pengaruhmu di industri olah raga hancur seperti kanker,” kata Raisman, emosional. Ia mengakui kepada publik sebagai korban pelecehan Nassar pada November lalu.

    Raisman mengakui dirinya sebenarnya tak ingin bersaksi di pengadilan. “Saya sangat takut dan grogi. Tapi mimpi saya adalah suatu hari tidak akan ada lagi korban dari predator seperti Larry. Sehingga tidak ada lagi yang harus berkata, Saya juga (korban).”

    Ruang pengadilan pun dipenuhi suara tepuk tangan hadirin setelah Raisman mengucapkan terima kasih dan kembali ke tempat penonton.

    Pengadilan di Lansing, Michigan, pada Rabu 24 Januari 2018 menjatuhkan hukuman 40 sampai 175 tahun penjara kepada Larry Nassar, bekas dokter tim nasional senam Amerika Serikat atau USA Gymnastics.

    Nassar yang juga dokter di Michigan State University, divonis sangat berat karena terbukti bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari seratus perempuan dewasa dan remaja, termasuk beberapa pesenam AS peraih medali Olimpiade.


  • AS
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.