Inggris Tambah Pasukan di Afganistan

Reporter

Editor

Rabu, 14 Oktober 2009 08:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Inggris bersiap untuk mengirim ratusan pasukan tambahan ke Afganistan sebagai penegasan komitmen negara itu atas perang tak populer itu. Langkah itu diambil saat pemerintahan Obama mengevaluasi seluruh pendekatannya terhadap konflik itu.

Rencana pengiriman sekitar 500 pasukan Inggris itu menjadi berita baik bagi Gedung Putih yang telah berupaya membujuk negara-negara Eropa untuk mengirim lebih banyak pasukan ke Afganistan. Perdana Menteri Gordon Brown diperkirakan mengumumkan langkah itu Rabu, menurut sumber yang mengetahui masalah itu.

Brown mengatakan penambahan pasukan bergantung pada sejumlah kondisi, termasuk strategi NATO untuk melatih personel sipil dan militer Afgan, persenjataan yang memadai, dan pemerintahan Afgan baru yang akan berkuasa.

Tambahan pasukan Inggris itu muncul saat pemerintahan Obama menimbang permintaan mendesak dari komandan Amerika di Kabul, Jenderal Stanley McChrystal, untuk penambahan puluhan ribu tentara dan Marinir Amerika.

Obama akan mengumpulkan dewan perang Rabu untuk membahas evaluasi pesimistis perang itu yang disampaikan Jenderal McChrystal ke Washington, Agustus, sebelum mengajukan penambahan pasukannya.

Pejabat Gedung Putih mengatakan evaluasi itu akan berlangsung setidaknya hingga minggu depan, yang berarti keputusan terakhir tentang strategi di Afganistan tidak akan muncul sebelum bulan depan.

Inggris memiliki kontingen NATO terbesar kedua di Afganistan setelah Amerika, dan Brown akan menggunakan kesempatan di Parlemen untuk menyampaikan putusan-putusan prinsip untuk meningkatkan komitmen pasukan Inggris sekitar 500, menurut sumber. Keberadaan pasukan Inggris di Afganistan akan meningkat menjadi sekitar 9.500, jumlah terbesar sejak awal konflik 2001.

Keputusan Brown berisiko politik. Perang itu semakin tidak populer di Inggris, dan Brown telah dituduh gagal memperlengkapi pasukan Inggris dengan baik sebelum mereka dikirim ke Afganistan. Dia secara konsisten menolak kritik yang berasal dari oposisi dan sebagian dari militer itu.

WSJ | ERWIN Z

Berita terkait

Kenapa Amerika Gagal di Afghanistan, Menurut Mantan Pejabat Hingga Veteran AS

23 Agustus 2021

Kenapa Amerika Gagal di Afghanistan, Menurut Mantan Pejabat Hingga Veteran AS

Amerika Serikat telah mengucurkan dukungan keuangan masif dan pasukan ke Afghanistan. Lantas kenapa gagal memenangkan perang setelah 20 tahun?

Baca Selengkapnya

241 Ribu Orang Tewas Sejak Amerika Serikat Perangi Taliban

22 Agustus 2021

241 Ribu Orang Tewas Sejak Amerika Serikat Perangi Taliban

Selama 20 tahun Amerika Serikat memerangi Taliban, ratusan ribu orang baik prajurit maupun warga sipil tewas di Afganistan dan Pakistan

Baca Selengkapnya

20 Tahun Perangi Taliban, Amerika Serikat Habiskan Rp 31 Ribu Triliun

22 Agustus 2021

20 Tahun Perangi Taliban, Amerika Serikat Habiskan Rp 31 Ribu Triliun

Uang yang Amerika Serikat keluarkan setara dengan membagikan Rp 116 juta bagi 271 juta penduduk Indonesia

Baca Selengkapnya

Reuters/Ipsos: Popularitas Joe Biden di Level Terendah Usai Kemenangan Taliban

18 Agustus 2021

Reuters/Ipsos: Popularitas Joe Biden di Level Terendah Usai Kemenangan Taliban

Peringkat persetujuan Presiden Joe Biden mencapai level terendah sejak menjabat setelah pemerintah Afganistan dukungan AS runtuh oleh Taliban.

Baca Selengkapnya

Ini Faktor Kenapa Taliban Bisa Kuasai Afganistan Nyaris Tanpa Perlawanan

18 Agustus 2021

Ini Faktor Kenapa Taliban Bisa Kuasai Afganistan Nyaris Tanpa Perlawanan

Taliban menguasai Afganistan hanya beberapa hari dan bahkan nyaris tanpa perlawanan dari pasukan pemerintah. Apa faktor kemenangan mulus Taliban?

Baca Selengkapnya

Top 3 Dunia: Risiko Lumpuh Wajah Vaksin Sinovac Hingga Kemenangan Taliban

18 Agustus 2021

Top 3 Dunia: Risiko Lumpuh Wajah Vaksin Sinovac Hingga Kemenangan Taliban

Tiga berita terpopuler dunia pada 17 Agustus 2021 yakni risiko lumpuh wajah vaksin Sinovac hingga karier politik Joe Biden terancam karena Taliban.

Baca Selengkapnya

Pendiri Taliban Mullah Baradar Dikabarkan Akan Kembali ke Afganistan

17 Agustus 2021

Pendiri Taliban Mullah Baradar Dikabarkan Akan Kembali ke Afganistan

Pendiri Taliban Mullah Baradar dikabarkan akan pulang ke Afganistan setelah 20 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di negara itu.

Baca Selengkapnya

40.000 Orang Terluka Selama Pertempuran di Afganistan Sejak Juni

17 Agustus 2021

40.000 Orang Terluka Selama Pertempuran di Afganistan Sejak Juni

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan 40.000 orang lebih yang terluka selama pertempuran di Afganistan telah dirawat sejak Juni.

Baca Selengkapnya

Wakil Presiden Afganistan Amrullah Saleh Ajak Rakyat Bergabung Melawan Taliban

17 Agustus 2021

Wakil Presiden Afganistan Amrullah Saleh Ajak Rakyat Bergabung Melawan Taliban

Wakil presiden pemerintahan Afganistan yang digulingkan, Amrullah Saleh, meminta warga negaranya untuk bergabung dalam perlawanan menentang Taliban.

Baca Selengkapnya

Mengenang Momen Jokowi Kunjungi Afganistan di Tengah Serangan Taliban

17 Agustus 2021

Mengenang Momen Jokowi Kunjungi Afganistan di Tengah Serangan Taliban

Beberapa jam sebelum Jokowi mendarat ada penyerangan ke Akademi Militer di Afganistan.

Baca Selengkapnya