Facebook Ancam Hentikan Penayangan Berita jika Kongres AS Loloskan RUU Media

Reporter

Editor

Yudono Yanuar

Ilustrasi Facebook. REUTERS/Dado Ruvic

TEMPO.CO, Jakarta - Induk Facebook, Meta Platforms Inc, mengancam akan menghapus berita dari platformnya jika Kongres AS meloloskan rancangan undang-undang yang bertujuan mempermudah media berita bernegosiasi secara kolektif dengan perusahaan media sosial seperti Google dan Facebook.

Sumber Reuters mengatakan anggota parlemen sedang mempertimbangkan untuk menambahkan Undang-Undang Persaingan dan Pelestarian Jurnalisme ke dalam undang-undang pertahanan yang harus disahkan sebagai cara untuk membantu industri berita menghadapi media sosial.

Baca juga Ini Cara Australia Paksa Facebook dan Google Berbagi Pendapatan dengan Media Berita

Juru bicara Meta Andy Stone dalam sebuah tweet mengatakan perusahaan akan dipaksa mempertimbangkan untuk menghapus berita jika undang-undang tersebut disahkan "daripada tunduk pada negosiasi yang diamanatkan pemerintah yang secara tidak adil mengabaikan nilai apa pun yang kami berikan kepada outlet berita melalui peningkatan lalu lintas dan langganan."

Dia menambahkan proposal tersebut gagal untuk mengakui bahwa penerbit dan penyiar menempatkan konten di platform karena "itu menguntungkan keuntungan mereka - bukan sebaliknya."

The News Media Alliance, sebuah kelompok perdagangan yang mewakili penerbit surat kabar, mendesak Kongres untuk menambahkan pasal pembagian keuntungan itu ke RUU pertahanan, dengan alasan bahwa "surat kabar lokal tidak mampu menanggung penggunaan dan penyalahgunaan Big Tech selama beberapa tahun lagi, dan waktu untuk mengambil tindakan semakin berkurang. . Jika Kongres tidak segera bertindak, kami berisiko membiarkan media sosial menjadi surat kabar lokal de facto Amerika."

Lebih dari dua lusin kelompok termasuk Persatuan Kebebasan Sipil Amerika, Pengetahuan Publik dan Asosiasi Industri Komputer & Komunikasi pada hari Senin mendesak Kongres untuk tidak menyetujui RUU berita lokal.

Menurut mereka, aturan itu menciptakan pengecualian antimonopoli yang keliru untuk lembaga penerbit dan penyiaran, karena RUU itu tidak boleh mensyaratkan dana yang diperoleh melalui negosiasi atau arbitrase bahkan akan dibayarkan kepada jurnalis.

Undang-undang di Australia, yang mulai berlaku pada Maret 2021 setelah pembicaraan dengan perusahaan teknologi besar, sempat menyebabkan penghentian sementara penayangan berita di Facebook di negara tersebut.

Namun sejak News Media Bargaining Code berlaku, berbagai perusahaan teknologi termasuk Facebook dan Google akhirnya menandatangani lebih dari 30 kesepakatan dengan outlet media, memberikan kompensasi kepada mereka untuk konten yang menghasilkan klik dan dolar dari iklan, tambah laporan itu.

REUTERS






Mengapa Buruk Dampaknya Jika Terbiasa Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain?

6 jam lalu

Mengapa Buruk Dampaknya Jika Terbiasa Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain?

Terus membandingkan diri sendiri dengan orang lain sama saja mengabaikan potensi yang dimiliki


Tips Membuat Konten Bermutu di Media Sosial

1 hari lalu

Tips Membuat Konten Bermutu di Media Sosial

Para kreator perlu menyajikan konten yang berkualitas dan bernilai karena bisa mempengaruhi kehidupan orang yang melihatnya.


Buzzer Mainkan Isu SARA Jelang Pemilu, Ini Sanksi Pidana untuk Mereka

1 hari lalu

Buzzer Mainkan Isu SARA Jelang Pemilu, Ini Sanksi Pidana untuk Mereka

Bawaslu akan menindak buzzer yang menggunakan isu identitas atau SARA di media sosial. Bila terbukti bersalah akan dikenakan pelanggaran UU ITE


Peneliti Google Ciptakan Model AI Baru yang Mengubah Teks Menjadi Musik

2 hari lalu

Peneliti Google Ciptakan Model AI Baru yang Mengubah Teks Menjadi Musik

Program AI dari Google ini dapat mengubah input teks menjadi musik berdurasi hitungan menit.


Tips Mengelola Emosi Akibat Konten Adu Domba Buzzer

2 hari lalu

Tips Mengelola Emosi Akibat Konten Adu Domba Buzzer

Jelang tahun politik, psikolog UGM memberikan cara menghindari emosi akibat konten buzzer.


Inilah 6 Aplikasi yang Paling Banyak Digunakan Orang Indonesia 2022

3 hari lalu

Inilah 6 Aplikasi yang Paling Banyak Digunakan Orang Indonesia 2022

Whatsapp menjadi aplikasi paling populer yang digunakan masyarakat Indonesia, persentasinya mencapai 98,07 persen pengguna di Indonesia.


Marak Isu Penculikan, Emak-Emak di Depok: Hoaks atau Bohong Kami Tetap Khawatir

4 hari lalu

Marak Isu Penculikan, Emak-Emak di Depok: Hoaks atau Bohong Kami Tetap Khawatir

Emak-emak di Depok diresahkan dengan maraknya isu penculikan yang merebak melalui group media sosial WhatsApp


Viral Bayi 7 Bulan Dicekoki Kopi Saset oleh Ibunya, Ini Bahayanya

4 hari lalu

Viral Bayi 7 Bulan Dicekoki Kopi Saset oleh Ibunya, Ini Bahayanya

Media sosial dihebohkan dengan aksi ibu yang memaksa bayinya meminum kopi saset. Bisa mengundang bahaya bagi bayi 7 bulan itu.


Gelombang PHK Massal di Raksasa Teknologi, Efeknya Hingga ke Jajaran Eksekutif

4 hari lalu

Gelombang PHK Massal di Raksasa Teknologi, Efeknya Hingga ke Jajaran Eksekutif

Eksekutif senior yang bergaji hingga $1 juta per tahun juga diberhentikan oleh Google, Microsoft, dan Amazon dalam gelombang PHK massal itu.


Beredar Pesan Berantai Penculikan Anak di Cibinong, Polisi: Isu Belaka

4 hari lalu

Beredar Pesan Berantai Penculikan Anak di Cibinong, Polisi: Isu Belaka

Polsek Cibinong mengimbau orang tua segera melapor ke polisi jika melihat penculikan anak