Brasil Mulai Pembicaraan dengan Rusia Soal Produksi Vaksin Virus Corona

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Jakarta - Negara bagian Parana di Brasil telah memulai pembicaraan dengan Rusia terkait produksi vaksin virus Corona. Hal tersebut menyusul disetujuinya produksi sebuah vaksin di Rusia yang diyakini bisa menyembuhkan gejala virus Corona. Rencananya, vaksin itu akan diproduksi oleh Parana Technology Institute atau Tecpar.

    "Gubernur Ratinho Junior telah dijadwalkan untuk bertemu dengan Duta Besar Rusia di Brazil pada rabu ini untuk membahas kesepakatan dua pihak," ujar keterangan pers Pemerintah Daerah Parana, Rabu, 12 Agustus 2020.

    Pakar tidak yakin Parana melakukan keputusan yang tepat apabila menyetujui produksi vaksin virus Corona asal Rusia. Salah satu alasannya, karena vaksin yang dibuat oleh Rusia belum menyelesaikan uji klinisnya.

    Dikutip dari Reuters, pengujian vaksin virus Corona asal Rusia baru berjalan dua bulan di sana. Jika dikonversikan ke prosentase, kurang lebih baru 10 persen berjalan. Dengan kata lain, masih tergolong awal untuk mengatakan vaksin buatan perusahaan Sistema tersebut siap.

    Di Brasil, untuk sebuah vaksin bisa mulai dproduksi masal, harus mendapat izin dahulu dari pihak regulator atau Anvisa. Sejauh ini, pihak Anvisa menyatakan bahwa mereka belum menerima atau menyetujui permohonan apapun terkait vaksin virus Corona dari Rusia.

    "Saya jujur akan berhati-hati terhadap vaksin Rusia tersebut. Perempuan sungguh sangat berani saat ini, jika tidak ingin mengatakan mereka tak bertanggungjawab, untuk memproduksi vaksin yang masih di tahap awal uji klinis," ujar Ivo Bucaresky, mantan Direktur Anvisa, menambahkan. 

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Masker Scuba Tak Efektif Halau Covid-19, Bandingkan dengan Bahan Kain dan N95

    Dokter Muhamad Fajri Adda'i tak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff. Ada sejumlah kelemahan pada bahan penutup wajah jenis tersebut.