Tak Kesampaian Jadi Pilot, Petani Bawang Ini Bangun Pesawat

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketika mimpinya untuk menjadi seorang pilot tidak terwujud, Zhu Yue, seorang petani bawang putih di Cina, memutuskan membangun sebuah pesawat terbang. Zhu harus mengubur mimpinya karena dia terpaksa putus sekolah. Sumber: asiaone.com

    Ketika mimpinya untuk menjadi seorang pilot tidak terwujud, Zhu Yue, seorang petani bawang putih di Cina, memutuskan membangun sebuah pesawat terbang. Zhu harus mengubur mimpinya karena dia terpaksa putus sekolah. Sumber: asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika mimpinya untuk menjadi seorang pilot tidak terwujud, Zhu Yue, seorang petani bawang putih di Cina, memutuskan membangun sebuah pesawat terbang. Zhu harus mengubur mimpinya itu karena dia putus sekolah.          

    Pada tahun lalu, Zhu terpukul karena mimpinya untuk menjadi pilot benar-benar kandas. Sebab ketika dia sudah memiliki uang untuk bersekolah, umurnya sudah masuk usia paruh baya atau di atas 35 tahun.      

    “Saya sadar, tak mungkin bisa membeli pesawat, tetapi saya bisa membangun sebuah pesawat,” kata Zhu.

    Baca: Kisah Sukses Mantan Buruh Migran Jadi Pengusaha 

    Dikutip dari asiaone.com, Minggu, 28 Oktober 2018, Zhu membuat sebuah replika utuh pesawat Airbus A320. Replika pesawat yang hampir rampung itu, berdiri secara permanen di sebuah aspal yang dikelilingi kebun gandum di wilayah utara Cina.

    Kemampuan Zhu membuat replika pesawat diperolehnya ketika bekerja sebagai seorang tukang las di sebuah pabrik di kota Kaiyuan. Saat yang sama, dia mulai menanam bawang merah dan bawang putih.

    Baca: Seri UKM: Michelle Widjaja, Gadis di Balik Sukses Shirokuma 

    Untuk membuat replika pesawat Airbus A320, Zhu menggunakan uang tabungannya lebih dari 2.6 juta yuan atau Rp 5,7 miliar. Agar pembangunan pesawatnya ini mirip dengan yang asli, maka Zhu berkiblat pada model mainan Airbus A320.

    Tak hanya itu, dia pun menghitung dengan sungguh-sungguh dimensi Airbus A320 dan mempelajari lewat foto. Dalam proses pembuatan, dia pun membuat banyak kesalahan.

    Namun kini pesawat buatan Zhu sudah memiliki badan pesawat, sayap, kokpit, mesin dan ekor. Total dia menghabiskan 60 ton besi baja. Untuk mempercepat proses pembuatan, dia dibantu oleh lima orang temannya.  

    “Mereka (teman) pada satu sisi mencari uang, tetapi pada sisi lain mereka membantu saya mewujudkan mimpi,” kata Zhu.      

    Airbus buatan rumahan ini tidak bisa terbang seperti pesawat umumnya dan Zhu akan mengubahnya sebagai restoran untuk makan malam. Dia berencana akan menggelar sebuah karpet merah bagi siapa pun yang ingin makan di restorannya itu bak seorang kepala negara. Dia pun berharap, pesawatnya yang memiliki 36 kursi, bisa segera dipenuhi oleh penumpang yang lapar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.